Minggu, 10 Oktober 2010

ocehan sang kawan

Tak lama ku buka mata dari peristirahatan ku di hari kemarin, suara keras mengelegar menghentak gendang telingaku, suara itu bersumber dari kamar disampingku. Eh…rupanya itu suara kawan ku, suara sang kawan yang sedang mendongengkan sebuah pengalaman yang baru saja kemarin dia dapatkan di belahan pulau jawa bagian barat sana. Bukan semabarang pengalaman dia ceritakan. Dia menceritakan pengalamannya saat interview user pada perusahaan di Jakarta timur, bercerita tentang betapa akbar perusahaanya, betapa mewah fasilitas-fasilitas yang dia dapatkan jika menjadi karyawan perusahaan tersebut. Temanku bercerita dengan bangganya, seperti sang kakek pejuang bercerita tentang perjuangannya dulu pada saat merebut NKRI dari colonial belanda pada anak cucunya, menggebu-gebu dan sangatlah berapi-api saat terdengar dari kamarku yang gelap gulita, belum kunyalakan lampu, hanya cahaya ventilasi kamar yang menjorok kedalam kamar, senada dengan lampu TV di dalam kamar yang sepertinya memandangi ku, hanya mereka yang mencahayai ku saat itu.
Kawan ku masih bercerita, masih menggebu-gebu, masih berapi-api masih tetap bersemangat, seperti sang khatib yang sedang berkhotbah dia rupanya. Berpanjang lebar, dengan penuh kecerian dia mengeluarkan untaian-untaian kalimat dari mulutnya. Dengan sesekali temanku yang satunya, yang mendengarkan bertanya-tanya, “mosok tow?” (dengan bahasa jawa semarang tapi menggunkan logat tegal) dengan muka terheran-heran, dan tak jarang pula ia berseru pada sang dalang “teruskan….!” Dengan wajah penuh dengan rasa penasaran.
Hingga pada obrolan tersebut sampailah pada titik atau kata yang membuat aku tercengang, kaget. Sang dalang berkata pada teman ku “ ngarti ora? Gajine pas training ngko ki sekitar 3.5 jt..!!(dengan logat brebesnya yang kental). Dalam hati ku berfikir, dan asli ku tercengang dahsyat saat itu. Saat itulah aku mulai berandai-andai, berkhayal mungkin tepatnya. “andai saja pas test kemarin aku bersubgguh-sungguh, aku rak celelekan..mungkin aku akan lebih cepat membahagiakan abah dan ibu ku. Mungkin aku bisa menjadi karyawan tersebut. Sanggup lebih cepat menaik hajikan sang abah dan ibu yang amat ku cinta, tp sudahlah itu cuman angan-angan, cuma khayalan, dan aku Cuma berandai-andai hanya untuk menghibur diri sendiri, atas kehidupan yang masih belum berpihak pada ku, pada kehidupan ku.
Sifat setan yang terkutuk seketika muncul saat itu, iri dan dengki tumbuh dalam hati, hati ku saat itu bagai di selimuti jamur iri dengki yang di tanam sang setan. Ku coba tuk berfikir dan beristighfar, mungkin inilah rejekinya, masih bukan rejeki ku. Mungkin jika besok ada mungkin itu rejeki ku, giliran ku mendapatkan ladang rejeki yang halal untuk mengkabulkan do’a dan mencapai segala cita.
Cita-cita yang masih tertanam sangat dalam di hati, sebuah cita-cita yang aku harap bisa mencapainya, sebuah target hidup untuk membahagiakan abah, ibu, menghajikan mereka membawa mereka ke rumah Allah ke tujuan kiblat semua muslim sejagad raya ini dan membahagiakan semua keluarga ku semua tanpa terkecuali.
Abah….Ibu….aku ingin berjanji, tapi aku takut tak mampu menepatinya, aku Cuma mampu berikhtiar. Aku harap sebelum aku menikah ataupun sebelum sepuluh tahun kedepan aku sudah mampu mewujudkan cita-cita ku, membawamu memenuhi rukun islam yang ke-5. Membawamu ke tanah para nabi, dengan berapi-api ku sematkan itu dalam hati, dan mudah-mudahan tak cepat luntur oleh waktu. Amiin..
Saat aku merenung dan berfikir sang kawan ku masih melanjutkan khotbahnya, masih berapi-api, masih menggebu-gebu seperti pertama kali ia bercerita, dan teman ku yang satunya masih asik mendengarkan cerita dengan khusuk, bagai jama’ah shalat jum’at mendengarkaan khotbah dari sang khatib.
Dalam hati ku berucap “ itu sebuah ilmu kawan, dengarkan lah terus, dan dengarkan lah lagi, sampai telinga mu panas, sampai hati mu terasa panas dan berapi-api” dengan seutas senyum simpul yang ku tampilalkan, meski tak ada yang melihatnya.
Sejenak ku berfikir tentang teman ku yang bercerita.
“apa yang dia fikirkan dengan dia menceritakan semua itu?apakah dia riya dengan semuanya itu?apakah dia tahu bahwa untaian kata-katanya bisa membuat kami(sang penganggur) dapat merasa menjadi benar-benar menjadi seorang penganggur?atau jangan-jangan kau memang menertawakan kami penganggur yang tak segera dapat pegangan?”
Aku rasa bukan itu yang aku fikirkan, dan aku buang jauh-jauh semua fikiran itu, hanya ucap syukur dan Alhamdulillah yang harusnya terucap.
“dia bercerita agar kita lebih termotivasi, lebih berapi-api dalam mencari pekerjaan, untuk membuktikan ke yang lain bahwa KITA JUGA BISA!”
Terima kasih kawan…
Ocehan mu di pagi hari tadi memberikan banyak insipirasi buat ku, banyak mitivasi dan menumbuhkan banyak kecambah-kecambah semangat dalam hati untuk menatap dan mejalani hari-hari kedepan, dan mudah-mudahan kecambah-kecambah tersebut dapat tumbuh menjadi pohon besar yang amatlah kokoh.
dan selamat kawan atas yang kau dapatkan....

13:51 WIB, 10 Oktober 2010
muhammad farid ahsan

pesan dari teman

Pada suatu siang di tanggal 06 Oktober 2010. Seperti biasa ku masih terlelap tidur dikamar kost ku dengan suara gemuruh musik mp3 bondan feat fead2black di kamar sebelah. Ku ambil HP 1112 ku yang masih menancap di charger ku dan ternyata mati, ku hidupkan dan kumasukan PIN seperti biasa yang sengaja ku pasang (magsudny sih biar aman aja).
Tit…tit…tit…tit…ku pencet nomer PIN sim card ku. PIN sudah kumasukan HP pun sudah kembali menyala, ku lirik jam, dan ternyata di hp sudah menunjukan jam 13.50. baru sejenak ku berpaling dari hp ku, dan memeluk guling yang di pinjamkna seorang teman pada ku.
Tiba-tiba hp ku bergetar tanpa ada sebuah alunan nada yang mendampingi.
Ku ambil dan ku buka hp ku, ternyata ada sebuah pesan yang masuk dalam hp ku, aku pikir “ ah…..ini paling dari dia, yang selalu menggangguku, pagi, siang, malam, maupun subuh-subuh buta”
Aku buka pesan masuk tersebut ternyata dari sebuah teman yang sedang berjuang membuat masa depan untuk menjadi lebih baik, di bagian barat jawa sana.
Pesan itu bertuliskan
“ terima kasih teman-teman
Mulai 11 Oktober aku mulai bekerja di PT. PLASINDO LESTARI terimakasih atas do’anya”
Seketika aku terdiam.
Berfikir, dan bertanya pada diri sendiri
“ kapan aku mampu mencapai kesuksesan seperti mu kawan?”
Perasaan iri memang sangat tampak sekali ku rasakan, namun rasa bahagia akan kesuksesan teman ku mengalah kan segalanya.
Selamat kawan…
Semoga apa yang kau raih sekarang menjadi berkah bagimu..
Dan semoga kesuksesan mu menjadi motivasi ku, dan buat kawan-kawan semua.

14:50 WIB, 06 Oktober 2010
muhammad farid ahsan

Selasa, 05 Oktober 2010

aku mengingat kalian

hari ini mripat ku pegell ..
sebuah catatan seseorang (tepatnya um ku) mengingatkan aku akan masa lalu.
barisan kata-katanya membuat kelopak mata ku yang sudah mulai lelah ini terasa amat berat membendung air mata, mengingat mereka, sodara-sodara ku yang sudah di surga.
mengingat semua yang pernah ku perbuat pada mereka, mengingat semua kesalahan kesalahan ku pada mereka, sodara-sodara ku yang teramat ku hormati sekarang.
maaf jika dulu aku terlalu kurang ajar pada kalian.
do'a-do'aku mungkin belum cukup untuk menghapus kekurangajaran ku pada kalian.
edyaan....
aku rak mampu nulis opo-opo meneh, utekku mampet, cma bayangan-bayangan penyesalan yang ada, bayangan-bayangan kesalahan-kesalahan yang aku perbuat pada kalian.
andai kalian masih bersama ku..
akan ku cium tangan kalian, sebagai permintaan maaf ku yang tulus.
dasar aku manusia tak punya otak, manusia idiot..!!
berucap saat mereka sudah di surga....
mas Zam, mas Aziz, mas Sigit.. semoga kalian diberi tempat yang layak di sisi-Nya..
amin...amin,,,y rabb.....
sepulang ku dari sini mungkin aku akan menangis, menangisi kepergian kalian yang teramat cepat dan juga menangisi segala kebodohan ku yang selama ini ku perbuat.
selamat jalan abang,..
takan ku lupakan kenangan bersama, taakan pernah ku lupakan semuanya.
takan ku relakan bayangan kalian pupus di makan waktu, dan jika aku punya anak nanti, akan ku ceritakan kebaikan-kebaikan kalian pada anak ku.

sekali lagi...
selamat jalan abang....