Tak lama ku buka mata dari peristirahatan ku di hari kemarin, suara keras mengelegar menghentak gendang telingaku, suara itu bersumber dari kamar disampingku. Eh…rupanya itu suara kawan ku, suara sang kawan yang sedang mendongengkan sebuah pengalaman yang baru saja kemarin dia dapatkan di belahan pulau jawa bagian barat sana. Bukan semabarang pengalaman dia ceritakan. Dia menceritakan pengalamannya saat interview user pada perusahaan di Jakarta timur, bercerita tentang betapa akbar perusahaanya, betapa mewah fasilitas-fasilitas yang dia dapatkan jika menjadi karyawan perusahaan tersebut. Temanku bercerita dengan bangganya, seperti sang kakek pejuang bercerita tentang perjuangannya dulu pada saat merebut NKRI dari colonial belanda pada anak cucunya, menggebu-gebu dan sangatlah berapi-api saat terdengar dari kamarku yang gelap gulita, belum kunyalakan lampu, hanya cahaya ventilasi kamar yang menjorok kedalam kamar, senada dengan lampu TV di dalam kamar yang sepertinya memandangi ku, hanya mereka yang mencahayai ku saat itu.
Kawan ku masih bercerita, masih menggebu-gebu, masih berapi-api masih tetap bersemangat, seperti sang khatib yang sedang berkhotbah dia rupanya. Berpanjang lebar, dengan penuh kecerian dia mengeluarkan untaian-untaian kalimat dari mulutnya. Dengan sesekali temanku yang satunya, yang mendengarkan bertanya-tanya, “mosok tow?” (dengan bahasa jawa semarang tapi menggunkan logat tegal) dengan muka terheran-heran, dan tak jarang pula ia berseru pada sang dalang “teruskan….!” Dengan wajah penuh dengan rasa penasaran.
Hingga pada obrolan tersebut sampailah pada titik atau kata yang membuat aku tercengang, kaget. Sang dalang berkata pada teman ku “ ngarti ora? Gajine pas training ngko ki sekitar 3.5 jt..!!(dengan logat brebesnya yang kental). Dalam hati ku berfikir, dan asli ku tercengang dahsyat saat itu. Saat itulah aku mulai berandai-andai, berkhayal mungkin tepatnya. “andai saja pas test kemarin aku bersubgguh-sungguh, aku rak celelekan..mungkin aku akan lebih cepat membahagiakan abah dan ibu ku. Mungkin aku bisa menjadi karyawan tersebut. Sanggup lebih cepat menaik hajikan sang abah dan ibu yang amat ku cinta, tp sudahlah itu cuman angan-angan, cuma khayalan, dan aku Cuma berandai-andai hanya untuk menghibur diri sendiri, atas kehidupan yang masih belum berpihak pada ku, pada kehidupan ku.
Sifat setan yang terkutuk seketika muncul saat itu, iri dan dengki tumbuh dalam hati, hati ku saat itu bagai di selimuti jamur iri dengki yang di tanam sang setan. Ku coba tuk berfikir dan beristighfar, mungkin inilah rejekinya, masih bukan rejeki ku. Mungkin jika besok ada mungkin itu rejeki ku, giliran ku mendapatkan ladang rejeki yang halal untuk mengkabulkan do’a dan mencapai segala cita.
Cita-cita yang masih tertanam sangat dalam di hati, sebuah cita-cita yang aku harap bisa mencapainya, sebuah target hidup untuk membahagiakan abah, ibu, menghajikan mereka membawa mereka ke rumah Allah ke tujuan kiblat semua muslim sejagad raya ini dan membahagiakan semua keluarga ku semua tanpa terkecuali.
Abah….Ibu….aku ingin berjanji, tapi aku takut tak mampu menepatinya, aku Cuma mampu berikhtiar. Aku harap sebelum aku menikah ataupun sebelum sepuluh tahun kedepan aku sudah mampu mewujudkan cita-cita ku, membawamu memenuhi rukun islam yang ke-5. Membawamu ke tanah para nabi, dengan berapi-api ku sematkan itu dalam hati, dan mudah-mudahan tak cepat luntur oleh waktu. Amiin..
Saat aku merenung dan berfikir sang kawan ku masih melanjutkan khotbahnya, masih berapi-api, masih menggebu-gebu seperti pertama kali ia bercerita, dan teman ku yang satunya masih asik mendengarkan cerita dengan khusuk, bagai jama’ah shalat jum’at mendengarkaan khotbah dari sang khatib.
Dalam hati ku berucap “ itu sebuah ilmu kawan, dengarkan lah terus, dan dengarkan lah lagi, sampai telinga mu panas, sampai hati mu terasa panas dan berapi-api” dengan seutas senyum simpul yang ku tampilalkan, meski tak ada yang melihatnya.
Sejenak ku berfikir tentang teman ku yang bercerita.
“apa yang dia fikirkan dengan dia menceritakan semua itu?apakah dia riya dengan semuanya itu?apakah dia tahu bahwa untaian kata-katanya bisa membuat kami(sang penganggur) dapat merasa menjadi benar-benar menjadi seorang penganggur?atau jangan-jangan kau memang menertawakan kami penganggur yang tak segera dapat pegangan?”
Aku rasa bukan itu yang aku fikirkan, dan aku buang jauh-jauh semua fikiran itu, hanya ucap syukur dan Alhamdulillah yang harusnya terucap.
“dia bercerita agar kita lebih termotivasi, lebih berapi-api dalam mencari pekerjaan, untuk membuktikan ke yang lain bahwa KITA JUGA BISA!”
Terima kasih kawan…
Ocehan mu di pagi hari tadi memberikan banyak insipirasi buat ku, banyak mitivasi dan menumbuhkan banyak kecambah-kecambah semangat dalam hati untuk menatap dan mejalani hari-hari kedepan, dan mudah-mudahan kecambah-kecambah tersebut dapat tumbuh menjadi pohon besar yang amatlah kokoh.
dan selamat kawan atas yang kau dapatkan....
13:51 WIB, 10 Oktober 2010
muhammad farid ahsan
