Rabu, 30 November 2011

Berjudulkan Namamu.
















ladang hatiku kau tanamkan benih-benih cinta
kau sirami dengan kata-kata nista nan durja
tak kubiarkan benih cintamu itu tumbuh subur dihati
takan kubiarkan itu terjadi.

hari demi hari kau racuni aku dengan kata durja
kata durja yang mengandung banyak derita
kata cinta itu tepatnya.
ku tolak dengan berbagai cara.

dan aku tetap menolak kau suburkan ladang hatiku
dari benih-benih cintamu itu.
kau wanita yang terlalu baik untuk menjadi petani 
petani dilahan hati nan kelam ini.

kupikir kau akan menyerah karenanya
sebuah hal yang teramat sangat aku harapkan
sebelum hati ini terlalu lemah
terlalu lemah untuk menolak apa yang akan engkau berikan.

dan akupun menyerah.
hatiku kini tertambat di dermaga hatimu
kau menangkan pertarungan ini, 
kau hancurkan perisai kesombonganku akan cinta.

aku menyerah, dan terkapar penuh darah.
darah hitam penuh nista nan durja.
dan kau ganti dengan darah segar penuh cinta.
ladang hatikupun sudah penuh akan benih cintamu yang tumbuh subur
dan semakin rindang.

kau birukan hatiku, kau warnai hariku,
kau pelangikan warna kelam masa-masaku.
dan terimaksihku untukmu, wanitaku.


Jakarta, 30 November 2011. 15.00 WIB
Muhammad Farid Ahsan




Menulis Itu Seperti Hidup

Pagi ini, hari rabu 30 November 2011 di kantor, aku terpanggil untuk memperbaharui tulisanku lagi di blog, apapun isinya, apapun jenis tulisannya, tak masalah. Yang terfikirkan hanya menulis dan memperbaharui blog yang aku miliki.
Pertumbuhan itu ada, perubahan itu nyata adanya. Memang hidup itu seperti itu, pertumbuhan selalu berkesinambungan dengan sebuah perubahan, baik fisik, watak dan apapun yang terdapat pada diri kita. Dan saya merasakan itu, sebuah perubahan yang insyaAllah berubah menjadi lebih baik lagi. Dan perubahan yang paling aku banggakan itu bukan perubahan fisik, ataupun watak, namun gaya tulisan. Menurut ku perubahan dalam gaya tulisan ku sangatlah berbeda dengan gaya tulisan ku setahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu, dan bertahun-tahun lalu. Karena menurutku setiap gaya tulisan seseorang itu menunjukan semua yang ada pada dirinya, baik sifat, watak dan kepribadian. Yang dulu sewaktu masih belajar menggunakan baju seragam aku masih merangkai kata dengan kolaborasi huruf kecil, huruf besar dan angka, sebuah masa yang kelam rupanya. Kadangpun merasa malu sendiri jika mengingat masa-masa itu, sebuah rangkaian kata yang menunjukan kelabilan seseorang menurut ku. Karena : Kenapa harus susah-susah menggunakan angka jika hanya menggunakan huruf saja sudah mudah dan enak dibaca, kenapa harus menggunakan angka-angka dalam merangkai kata-kata pada sebuah kalimat? Bukankah itu merupakan salah satu bentuk kelabilan seseorang? Ya, menurut ku itu sebuah bentuk kelabilan seseorang, dan ini hanyalah sebuah pendapat pribadi aku sendiri.
Dan aku selalu terkesan dengan manusia-manusia yang mampu merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang indah, dan enak dibaca. Berasa ingin selalu belajar jika menemukan seseorang seperti itu, belajar untuk membuat sebuah karya dari rangkaian-rangkaian kata yang indah dan enak untuk dibaca. Bukan sekedar enak dibaca, namun juga mampu masuk ke hati, dan dicerna dengan otak dan juga menjadi sebuah pembelajaran bagi seseorang yang membacanya. Jika memang seperti itu ribuan lembar seratus ribuan pun tak mampu menggantikan sebuah perasaan itu. Sebuah nikmat yang tiada tara sepertinya, jika karya kita ada yang suka dan mampu menyerap hal-hal postive di dalamnya. Dan akupun menginginkan seperti itu.

Jakarta, 30 November 2011
10.16 WIB
Muhammad Farid Ahsan

Selasa, 29 November 2011

Bukan Penganggur Lagi


Jakarta, sebuah kota impianku setelah selesai dari tugasku sebagai pelajar, setelah menyelesaikan serangkan pelajaran selama lebih dari 15 tahun. Sebuah kota yang aku anggap kota penuh impian pada saat itu, kota yang sangat aku impikan, kota yang bisa menyatakan semua mimpi-mimpiku dihidup ini.
Jakarta, semuanya ada di sana, semuanya, lengkap. Seperti pasar swalayan yang menjual beraneka jenis kebutuhan sehari-hari.
Dan akhirnya aku pun berlabuh disini, dikota metropolitan, JAKARTA. Dengan tujuan pasti, yaitu mencari kerja, merebut impian dimasa depan. Awalnya keluarga agak kurang setuju akan sebuah pilihan yang aku pilih, karena hanya aku saja yang jauh merantau kejakarta, dan akupun seorang anak bontot yang seharusnya manja, dan tetap menghuni rumah dikampung, jikapun kerja aku tak boleh jauh dari kampung halaman.tapi hidup itu pilihan, dan aku memilih untuk ini, untuk menguji sejauh mana kekuatanku untuk menaklukan jakarta, kota impian ku ini.
Ke jakarta aku hanya berbekal seadanya, beberapa baju ganti, uang saku dari abah, ijazah D3, dan yang pasti do'a tulus dari ibu tercinta.
Tempat pertama yang aku kunjungi adalah kampung melayu, dimana banyak sodara-sodara satu kampung bertempat disitu. Di pecel lele bang Juhri aku mengistirahatkan badan aku, bersilaturahmi sekalian mencari tumpangan gratis untuk beristirahat. Dan jujur, awalnya aku tak punya tujuan kemana untuk menumpang, tapi optimis bakal mendapat tumpangan dari sodara-sodara yang diperantauan. :)
Hampir sebulan aku hidup di jakarta, uang saku sudah ludes buat bertahan hidup, dan aku sudah mulai menikmati kerasnya jakarta, aku menumpang kesana kemari, ketempat sodara, maupun kawan-kawan yang merantau di jakarta, jujur hanya untuk mendapatkan tumpangan dan makan gratis. Dari depok sampai tangerang aku menumpang.
Sebulan berlalu begitu cepat, dan pekerjaan pun tak kunjung aku dapatkan. Pekerjaan yang aku harapkan saat itu, yang di depan mata pupus seketika karena masalah kesehatan, aku down, bener-bener down dengan apa yang aku dapatkan saat itu.
Namun akhirnya ada teman yang menawarkan pekerjaan, Alhamdulillah. dan aku langsung menyambangi kantor itu, dan sebuah perjuanganku sebualan ini tak sia-sia, aku diterima kerja. aku diterima kerja bu. aku sudah dapat kerja bu, sudah bukan penganggu lagi bu. senang sekali saat itu, seperti ketiban reentuhan duit seratus ribuan. aku senang bukan kepalang. dan aku langsung mengabari ibu dan keluarga dibelahan bumi brebes sana. dan aku yakin disana ibuku dan keluarga bahagia mendengarnya. Rasa terima kasihku kepada semua sodara dan teman-teman yang rela memberikan tumpangan pada si penganggur ini, dan kelak jikalau aku sukses nanti insyaAllah aku takan melupakan betapa pentingnya pertolongan kalian saat itu. :)
Dan dikantor ini, sebelah selatan patung pancoran. kantor yang sekarang menjadi tempat berlabuh atas ilmu yang aku dapatkan dibangku sekolah. Sebuah kantor kecil, baru terbangun beberapa bulan. Dan Alhamdulillah aku nyaman disini, disebuah kantor kecil ini, yang penuh dengan orang-orang yang ramah, orang-orang yang menyenangkan. Aku betah. jujur aku betah, dan semoga akan selalu betah.
sudah enam bulan lebih aku disini, bekeja, bekarya, dan belajar. aku sudah mulai mengenal karakter masing-masing oang yang disini. Dan semoga banyak ilmu, banyak rejeki yang aku dapatkan dari perusahaan kecil ini, yang mudah-mudahan akan menjadi perusahaan yang besar dan bertahan lama suatu waktu nanti.
Namun mimpiku masih besar, masih banyak, masih berserakan diotak, aku tak boleh berhenti disini. Harus tetap berjuang. Dan semoga mimpi-mimpi itu akan bisa aku nyatakan, dengan sebuah perjuangan. Termasuk mimpi untukmu ibu dan abah, mimpi untuk mengantarkan kalian ditanah suci nan indah itu. Mekah. :)

Jakarta, 28 November 2011. 21.00 WIB
Muhammad Farid Ahsan