Jakarta, sebuah kota impianku setelah selesai dari tugasku sebagai pelajar, setelah menyelesaikan serangkan pelajaran selama lebih dari 15 tahun. Sebuah kota yang aku anggap kota penuh impian pada saat itu, kota yang sangat aku impikan, kota yang bisa menyatakan semua mimpi-mimpiku dihidup ini.
Jakarta, semuanya ada di sana, semuanya, lengkap. Seperti pasar swalayan yang menjual beraneka jenis kebutuhan sehari-hari.
Dan akhirnya aku pun berlabuh disini, dikota metropolitan, JAKARTA. Dengan tujuan pasti, yaitu mencari kerja, merebut impian dimasa depan. Awalnya keluarga agak kurang setuju akan sebuah pilihan yang aku pilih, karena hanya aku saja yang jauh merantau kejakarta, dan akupun seorang anak bontot yang seharusnya manja, dan tetap menghuni rumah dikampung, jikapun kerja aku tak boleh jauh dari kampung halaman.tapi hidup itu pilihan, dan aku memilih untuk ini, untuk menguji sejauh mana kekuatanku untuk menaklukan jakarta, kota impian ku ini.
Ke jakarta aku hanya berbekal seadanya, beberapa baju ganti, uang saku dari abah, ijazah D3, dan yang pasti do'a tulus dari ibu tercinta.
Tempat pertama yang aku kunjungi adalah kampung melayu, dimana banyak sodara-sodara satu kampung bertempat disitu. Di pecel lele bang Juhri aku mengistirahatkan badan aku, bersilaturahmi sekalian mencari tumpangan gratis untuk beristirahat. Dan jujur, awalnya aku tak punya tujuan kemana untuk menumpang, tapi optimis bakal mendapat tumpangan dari sodara-sodara yang diperantauan. :)
Hampir sebulan aku hidup di jakarta, uang saku sudah ludes buat bertahan hidup, dan aku sudah mulai menikmati kerasnya jakarta, aku menumpang kesana kemari, ketempat sodara, maupun kawan-kawan yang merantau di jakarta, jujur hanya untuk mendapatkan tumpangan dan makan gratis. Dari depok sampai tangerang aku menumpang.
Sebulan berlalu begitu cepat, dan pekerjaan pun tak kunjung aku dapatkan. Pekerjaan yang aku harapkan saat itu, yang di depan mata pupus seketika karena masalah kesehatan, aku down, bener-bener down dengan apa yang aku dapatkan saat itu.
Namun akhirnya ada teman yang menawarkan pekerjaan, Alhamdulillah. dan aku langsung menyambangi kantor itu, dan sebuah perjuanganku sebualan ini tak sia-sia, aku diterima kerja. aku diterima kerja bu. aku sudah dapat kerja bu, sudah bukan penganggu lagi bu. senang sekali saat itu, seperti ketiban reentuhan duit seratus ribuan. aku senang bukan kepalang. dan aku langsung mengabari ibu dan keluarga dibelahan bumi brebes sana. dan aku yakin disana ibuku dan keluarga bahagia mendengarnya. Rasa terima kasihku kepada semua sodara dan teman-teman yang rela memberikan tumpangan pada si penganggur ini, dan kelak jikalau aku sukses nanti insyaAllah aku takan melupakan betapa pentingnya pertolongan kalian saat itu. :)
Dan dikantor ini, sebelah selatan patung pancoran. kantor yang sekarang menjadi tempat berlabuh atas ilmu yang aku dapatkan dibangku sekolah. Sebuah kantor kecil, baru terbangun beberapa bulan. Dan Alhamdulillah aku nyaman disini, disebuah kantor kecil ini, yang penuh dengan orang-orang yang ramah, orang-orang yang menyenangkan. Aku betah. jujur aku betah, dan semoga akan selalu betah.
sudah enam bulan lebih aku disini, bekeja, bekarya, dan belajar. aku sudah mulai mengenal karakter masing-masing oang yang disini. Dan semoga banyak ilmu, banyak rejeki yang aku dapatkan dari perusahaan kecil ini, yang mudah-mudahan akan menjadi perusahaan yang besar dan bertahan lama suatu waktu nanti.
Namun mimpiku masih besar, masih banyak, masih berserakan diotak, aku tak boleh berhenti disini. Harus tetap berjuang. Dan semoga mimpi-mimpi itu akan bisa aku nyatakan, dengan sebuah perjuangan. Termasuk mimpi untukmu ibu dan abah, mimpi untuk mengantarkan kalian ditanah suci nan indah itu. Mekah. :)
Jakarta, 28 November 2011. 21.00 WIB
Muhammad Farid Ahsan