Jumat, 31 Oktober 2014

Aku

Hai, kamu yang baca.
Perkenalkan.
Aku farid, dan aku pembohong.
Ya, kadang nama yang baik melekat pada pribadi yang buruk. Tak jarang juga sebaliknya, nama yang -dianggap- kurang baik mempunyai pribadi yang baik.
Jadi, alangkah bijaknya kita tidak menilai sesuatu ataupun seseorang dari sekedar nama ataupun sesuatu yang tampak. Lihatlah sayur pare, dia tidak tampak cantik dan pula pahit tapi dia sehat.
Dan kembali lagi, inilah aku. Farid.
Dan aku pembohong. Bukan padamu, atau pada seseorang disekitarku. Tapi pada hatiku dan perasaanku.
Oke. Selamat malam dan selamat tidur, Rindu.
:)

Selasa, 28 Oktober 2014

Hai, Kamu.

Hai, Kamu yang di Surga.
Apa kabar?
Sudah lama rupanya kita tak bersua, meskipun hanya lewat kata.
Sudah lama kita tak bertukar kabar.
Dan, sudah lama kau tak menyemangatiku akan sesuatu.

Hai, Kamu yang di Surga.
Hari ini, tepat 2 tahun kurang 25 Hari sebelum aku mendengar kabarmu.
Dan, hari ini aku kembali mengingat jelas dirimu.
Dengan nama, kata dan senyumanmu.

Hai, Kamu yang di Surga.
Kadang rindu ini masih memilihmu untuk menjadi sarang.
Sudah lama memang,
Tapi rindu itu bukan sesuatu yang penurut.

Hai, Kamu yang di Surga.
Hanya doa berbahasa indonesia yang bisa aku kirimkan.
Semoga dengan doa yang seadanya kau bisa lebih bahagia.
Disana.

Sabtu, 15 Maret 2014

Terima Kasih Banyak, Naff.

Terendap laraku, muncul sebagai lagu utama di album Naff tahun 2003, dan cukup sukses merebut hati penikmat musik Indonesia. Dan kini, sepuluh tahun kemudian. Di tahun 2014 muncul sebagai sesuatu yang nyata didiriku, dan inipun cukup sukses mengacak-acak perasaanku. Terima kasih, Naff. Lagu "Terendap Laraku" milikmu bisa menyamarkanku saat mengungkapkannya saat bernyanyi. Terima kasih, Kasih.

*nyanyi* *sambil pegang botol* *botol aqua*

Jumat, 14 Maret 2014

Arrrggg...

Aku menyesal dengan keadaan
Aku menyesali kepengecutanku.
Aku menyesali segala keputusan yang ternyata menyakiti "kita".
Aku menyesali ketidak jujuranku.
Aku menyesali segala kesia-siaan yang kuberikan padamu.
Aku menyesali segala jerih payahku yang ternyata palsu.
Dan Aku akan sangat menyesali jika engkau benar-benar pergi meninggalku.
Aku menyesal.
Namun semoga saja aku tidak akan menyesali apa yang akan terjadi dimasa depan. Masa depanmu, masa depanku, dan masa depan kita.
Kau indah, kau teramat indah. Kau puisi dalam lembaran buku-buku hidupku. 
Kau gula alami, pemanis segala langkah hidupku.
Tanpamu setiap langkahku mungkin akan terasa pahit.
Tanpamu mungkin aku akan menjadi lemah.
Dan tanpamu rinduku kini tak bertuan.
Tapi semoga saja tanpaku kau kembali mekar, kembali bercahaya, dan menjadi lebih indah.
Maaf rembulan, bintangmu yang ternyata pengecut ini tak layak sebagai imammu dikala Sholat.