Aku mencintaimu dengan kesendirianku!
Senin, 22 Agustus 2016
Sampai diujung!
Hari berjalan begitu lambat akhir-akhir ini. Detik waktu seakan malas berubah ke angka yang selanjutnya, lebih memilih diam dan menertawakan aku yang sangat mengecewakan. Untuk dia dan untuk diriku sendiri.
Kisah yang telah kita buat dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun akhirnya sampai pada ujungnya. Segala rasa suka duka yang mewarna perjalanan kisahpun hanya akan menjadi sebuah kenangan yang haram untuk diingat. Kita tak bisa bersama.
Angan yang dulu pernah melayang-layang difikiran sekarang hanya akan menjadi sumbu akan sebuah penyesalan. Sekarang, semua angan hanya akan menjadi angan. Untuk sekarang dan entah berapa hari kedepan, berapa minggu kedepan, berapa bulan kedepan atau bahkan berapa tahun kedepan aku akan merasa sehancur ini.
Aku yang menggali kuburanku sendiri, aku yang menyebabkan semua ini terjadi. Aku tak layak menyalahkan siapapun di dunia ini. Hancur tidaknya aku, biar Engkau yang putuskan, Tuhan. Aku tak tau apa yang akan aku lakukan selain pasrah. Hidup ini milik-Mu, Tuhan.
Tuhan, bahagiakan dia dalam setiap hari-harinya. Hapus semua luka dalam hatinya, buang semua padaku. Cukup saja aku yang hancur!
Minggu, 14 Agustus 2016
Abah, Ibu. Maafkan aku.
Abah, ibu.
Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan kalian.
Maafkan aku yang masih sering membuat kalian geram dengan segala tingkah polahku ini.
Abah, ibu.
Maafkan aku untuk segala hal yang belum bisa aku beri.
Maafkan aku karena tidak bisa menjadi seperti anak-anak yang lain, yang mambahagiakan dan membanggakan orang tua mereka.
Abah, ibu.
Aku yang sekarang mungkin jauh diluar harapan kalian dulu padaku, aku minta maaf. Aku sangat menyesal untuk itu.
Mungkin terlambat untukku berusaha menjadi anak yang baik sekarang. Tapi yakinlah, aku akan selalu berusaha membuat kalian bangga dan bahagia mulai dari sekarang.
Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan kalian.
Maafkan aku yang masih sering membuat kalian geram dengan segala tingkah polahku ini.
Abah, ibu.
Maafkan aku untuk segala hal yang belum bisa aku beri.
Maafkan aku karena tidak bisa menjadi seperti anak-anak yang lain, yang mambahagiakan dan membanggakan orang tua mereka.
Abah, ibu.
Aku yang sekarang mungkin jauh diluar harapan kalian dulu padaku, aku minta maaf. Aku sangat menyesal untuk itu.
Mungkin terlambat untukku berusaha menjadi anak yang baik sekarang. Tapi yakinlah, aku akan selalu berusaha membuat kalian bangga dan bahagia mulai dari sekarang.
Sehat selalu Abah, Ibu. Aku sangat mencintai dan menyayangi kalian.
Sesal
Sabtu malam, seperti hari-hari biasa. Berkumpul dengan teman serantauan, bercanda kiri kanan, bermain kartu remi sampai larut, sambil kadang membicarakan hal yang berbau curhatan.
Dini hari menjelang, masing-masing kawan pulang ke peraduannya masing-masing, aku sendirian (lagi). Fikiranku menerawang tentang perbincangan minggu kemaren dengan beberapa kawan lama, kawan stm (sekarang smk). Kita bertukar kabar, bertukar cerita, pengalaman, pahit dan -beberapa- yang manis.
Berbincang tentang kabar kawan yang lain, tentang jadi apa mereka sekarang, dan seketika aku mengerdil.
Mereka, kawan-kawan stm seperjuangan sudah menjadi seseorang. Tapi, aku? Masih menjadi menjadi seorang bocah yang entah apa. Masih menjadi pemalas yang kesepian.
Melihat beberapa tahun kebelakang, si pemalas ini hanya melakukan hal yang tidak bermanfaat. Sedangkan mereka sudah banting tulang sedari muda. Terbersit penyesalan, "kenapa aku menyia-nyiakan waktu yang lalu dengan hal-hal yang bodoh".
Namun penyesalan ini tidak menghasilkan apa-apa, hanya rasa bersalah yang besar terhadap orang tua. Abah dan ibu.
Langganan:
Postingan (Atom)
