Kamis, 15 Maret 2012

pengisi hati itu seperti hari, selalu berganti.


Waktu berganti begitu cepat, sangat cepat, secepat aku mencintaimu saat itu, sebuah pandangan yang langsung menusuk ke hati, dengan berbagai rasa.
Perasaan itu begitu indah, perasaan pertama yang kurasakan, perasaan berbunga saat melihatmu, perasaan bahagia saat melihat senyum manismu (saat itu), perasaan yang teramat bahagia saat kau menyapa ku. Ya, perasaan itu, indah sekali rupanya. Dan hingga akhirnya kitapun menganyam jari jemari kita menjadi satu, dengan cinta, dengan kasih sayang.
Indah sekali, melebih semua perasaan yang pernah aku rasakan, sepertinya tak rela jika kau harus pergi dari sisiku, menganyam jari dengan seseorang yang lain.
Aku bahagia denganmu, teramat bahagia. Hingga saat itu datang, saat kau jenuh dengan hubungan kita, dengan segala apa yang aku beri padamu, dengan segala keluh kesahku padamu, dengan semua perhatianku padamu, kau menyerah. Kau berhenti untuk mencintaiku, itu pilihanmu. Meski sulit bagiku, dan aku masih mencintaimu dengan sangat, namun aku harus terima. Dengan segala amarah yang membuncah, ya aku terima. Semua sudah jalannya.
Hilang semua harap masa depan, hilang semua mimpi waktu itu, mimpi untuk menghabikan sisa waktuku denganmu.
Musnah bahagiaku seketika, hanya kepahitan dan benci yang bersemayam dihati. Meskipun masih ada sebongkah cinta yang sekarang sudah tak berguna, yang akan dan harus aku gugurkan dengan segara.
Yah, memang cinta itu akan selalu berakhir dengan menyakitkan, dan air mata. Namun tidak untuk ku, aku takan meneteskan setetespun air mata. Aku tegar. Aku kuat.
Terimakasih cinta, kau ajarkan aku banyak hal dalam kehidupan, tentang kebijaksanaan, tentang keikhlasan, tentang segala hal untuk menjalani semua tentang kehidupan ini.
Kau beri kenikmatan menikmati segala rasa, baik pahit, manis, indah, sakit, terluka, semuanya ku nikmati.
Terima kasih atas segala pahit di hati, atas segala sakit di jiwa, dan atas segala keindahan dunia tentang cinta.
Dan ku harus menggugurkan cinta yang tersisa ini dengan segera, hidupku takan berhenti sampai disini. Mengikhlaskan kau pergi jauh dari sisi, melepaskan dengan ikhlas anyaman jari jemari kita, membiarkan kau menganyam jari dengan seseorang yang lain. Dengan bahagia, dengan cinta tentunya.
Kau menjalani hidup, akupun akan demikian. Kau melupakanku, akupun melupakanmu, meskipun dengan perlahan, amat sangat perlahan, dengan ikhlas meskipun itu teramat berat.

Jakarta. 15, Maret 2012
22:30 WIB
Muhammad Farid Ahsan