
Langit di Jakarta semakin gelap, pertanda hari semakin petang menuju malam. sangat berbeda dengan perasaanku sekarang (dibaca : cinta) padamu, semakin terang benderang bagai nyala sinar sang surya dikala siang menjelang, terang dan hangat. Hangat? Ah, mungkin itu terlalu berlebihan. Cintaku tak sehangat itu padamu, tapi dinginpun kurasa tidak. Anyeb, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkannya.
Tapi apalah artinya rasa itu, yang pasti aku jujur akan perasaan hatiku, jujur kalau aku menyayangimu sebagai salah satu penghuni salah satu gubuk diladang hatiku yang sekarang rindang akan tumbuhan-tumbuhan bernama cinta.
Berhari-hari kita menjalin hati, memupuk rasa, berbagi kata, bertukar cinta. Dan Kaupun sebut aku sebagai bintang hatimu. Seterang itukah aku? Jika kau sebut aku sebagai bintang hatimu, sedangkan aku hanya menyebutmu dengan sebutan nama, tanpa memberikan sebutan seperti apa yang kau berikan padaku. Jika aku ingin memberikan sebutan itu, sebutan apa yang pantas ku sematkan untukmu? Wanita yang selalu mencerahkan setiap hari-hariku, mengubah emosi jiwaku dengan senyum ceria. Sepertinya semua kata indahpun tak cukup untuk menunjukan keindahanmu itu. Namun jika boleh, kau kan ku sebut "Rembulanku", terang bak sang surya, namun cahayanya lembut bak kain sutra.
Yah, kaulah itu, Rembulanku. Penerang setiap gelap malamku, penghangat setiap dinginnya malamku, pengantar tidur dikala ngantuk menjelang, penghibur dikala kerja lembur datang, kaulah Rembulanku. Rembulanku yang tak pernah lelah memperhatikanku, tak pernah lelah mengingatkanku kalau aku telah mencintaimu, dan sangat menyayangimu. Dan aku menyayangimu lebih dari seorang perokok mencintai rokoknya, lebih dari sang pebola mencintai bola dan kakinya, lebih dari sang penulis mencintai kertas dan penanya, dan lebih dari sang baja hitam mencintai jubah hitam bajanya.
Kau bertahta istimewa dihati, menghuni setiap inchi ruang hati, menghuni setiap sela ruang otak kanan dan kiri. Kau penguasa hati, tapi maaf, kau tak sendiri. Namun kau tetap istimewa, dengan segala gelak tawamu, rasa curigamu, senyum ceriamu, kasihmu, dan semuanya, apapun itu, semua tentang mu wanitaku, Rembulan hatiku.
Episode hidupku telah berganti, sekarang aku tak sendiri, aku sekarang bersamamu, wanitaku yang selalu dihati. Semoga putaran jam dinding tak bisa memisahkan hati yang sudah rekat ini, dan semoga putaran jam dinding tak sanggup menghancurkan cinta yang baru terbangun dan insyaAllah indah ini.
Jakarta. 05, Desember 2011.
23.30 WIB.
Muhammad Farid Ahsan

