Sabtu, 22 Oktober 2016

Rindu Untukmu

Rindu Untukmu

Malam tergusur oleh pagi
Suara nyamuk berdenging sangat keras
Sangat mengganggu
Lamunku jauh hingga bertemu denganmu
Manis pahit, duka bahagia, aku tak sanggup membeda
Yang ku tahu, aku sedang merindunya

Waktu tak pernah berhenti berputar
Namun hatiku masih saja tak berlaku benar
Goresan luka tak kunjung kering
Meski air mata sudah mengering

Rindu ini membuatku kaku
Rindu ini membuatku buntu
Namun aku tak bisa menghindar untuk merindu
Aku mencoba sekuat tenaga melepas rindu
Namun rindu itu malah semakin keras mendekap qalbu

Rindu ini datang tanpa undangan
Hinggap dihati
Memunculkan bayang-bayangmu di otak kanan dan kiri
Semakin kutenggelam dalam rindu, semakin sesak nafasku

Tuhan, jika rindu ini tak halal untukku
Jauhkan aku dari semua rasa itu
Jauhkan aku dari rasa rindu yang membelenggu
Sampai nanti aku membayangkan wajahnya tanpa sendu

Farid
Bekasi, 22 Oktober 2016

Selasa, 11 Oktober 2016

Surat Ke Sepuluh

Bekasi, 11 Oktober 2016
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apa kabar, Nok?
Semoga dalam keadaan sehat, bahagia, sejahtera dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin
Akhirnya doa-doa yang selama ini aku panjatkan sedikit demi sedikit terjawab, mudah-mudahan semua doa yang selalu terucap satu persatu terkabulkan. Aku tahu Allah memang tak pernah tidur, tak pernah mengabaikna satupun permintaan dari hambanya. Alhamdulillah. 😊😊
Ini adalah surat ke sepuluh, tak terasa waktu sangat cepat melesat maju. Seakan baru kemaren aku menulis surat pertamaku untukmu, sekarang sudah hampir selusin surat yang tak penting itu. Hahahabodoh.
Aku pernah berfikir, bahwa cinta yang aku rasa itu salah, keadaan itu tak pernah berpihak, waktu itu yang menghancurkanku, tapi ternyata bukan. Bukan Cinta, keadaan, ataupun waktu yang salah dan menghancurkanku. Mereka tidak pernah salah, mereka datang berjalan seperti kodratnya, harapanku sendirilah yang mengancurkan ku. Aku terlalu berharap sesuatu yang tak mungkin tergapai, terlalu melabungkan cita setinggi angkasa, hingga ketika jatuh rasanya sangat luar biasa. Dan ketika jatuh pada saat mencoba beranjak untuk berdiri tegak kembalipun seakan tak mampu.
Sudah lebih dari selusin hari aku lalui dengan sesuatu yang ternyata sia-sia, hanya membuat khawatir dan beban. Sekarang mungkin sudah saatnya aku kembali ke realita, aku memang tidak bisa menghilangkan rasa cinta yang sudah tertanam terlalu dalam, tapi disaat aku bisa melihat mu bahagia, entah kenapa aku menjadi lebih tenang, menjadi lebih ikhlas untuk merelakan dan melihatmu dengannya. Aku akan mulai bergerak perlahan, sedikit demi sedikit beranjak dari keterpurukan yang membosankan ini. Mulai lagi menghapuskan satu persatu segala cita yang pernah tercipta. 
Menerima keadaan adalah satu-satunya jalan, agar hidup kembali berjalan dengan sewajarnya seperti orang-orang kebanyakan.
Aku memasrahkan semua pada sang waktu, biar dialah yang mengubahku. Aku hanya perlu berjalan kedepan, meski mungkin akan sesekali menengok kebelakang. Piknik dalam kenangan.
Cinta ini tak pernah salah, Nok.
Cinta ini mengajarkan banyak hal, menghasilkan banyak rasa, membekaskan banyak cerita. Tidak mungkin rasa cinta adalah dosa, karena cinta datang langsung dari-Nya, bukan ciptaan manusia.
Keadaan yang terjadi dengan kita adalah yang terbaik untuk kita. Tak pernah sekalipun Allah menjerumuskan kita pada hal yang buruk. Meski aku sangat pernah tak berfikir demikian.
Aku rasa sudah saatnya aku mengurangi intensitas menulis surat untukmu, ya meskipun aku yakin surat-surat yang kutulis ini tidak ada penting-pentingnya untukmu. Cuma berisi curhatan konyol, siapa juga yang mau baca. Dan pula setiap kalimat tanya yang tertulispun tak pernah mendapatkan jawaban, permintaan pun tak pernah menghasilkan. Jadi aku fikir banyak kepercumaan.
Surat ke sepuluh ini adalah surat terakhir periode dua hari sekali, aku  mungkin akan tetap menulis surat untukmu, disaat rindu tak mungkin aku tampung lagi dalam sunyi, tak mampu lagi ku simpan dalam hati. Disaat itu hanya menulis surat aku bisa meluapkan rindu, meski aku rindu itu sudah tak halal untukku.
Aku tak pernah menyesal telah memilihmu menjadi penghuni didalam salah satu ruang dihati, aku juga tak pernah menyesal mwnghabiskan ribuan detik bersama denganmu. Aku hanya menyesal, saat bersama aku tidak terlalu membahagiakanmu.
Kamu yang sehat selalu ya, Nok. Bahagialah. Mulailah bersikap ekspresif, buanglah semua topeng, mulailah menjadi dirimu sendiri. Bahagia yang hakiki adalah bahagia yang lahir dan tumbuh dari hati. Menangislah pada saat kamu merasa sedih, teriaklah pada saat kamu merasa marah, dan tertawalah pada saat kamu merasa bahagia.
Berbahagialah. Segala doa terbaik aku panjatkan selalu untukmu, Nok.
Akhir kata..

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Senin, 10 Oktober 2016

Menata Kembali

Menata Kembali

Sendiriku dalam keheningan
Terpampang jelas segala penyesalan
Rancangan mimpi hancur berantakan
Hati membisu penuh kehampaan

Terpenjara aku dalam sepi
Tatap mataku kosong tak berarti
Selalu terjatuh aku saat berlari
Mengejar segala angan dan mimpi-mimpi

Lupakan segala kenangan yang telah tercipta
Biarkan lenyap seiring masa
Meskipun aku yakin tak akan pernah bisa

Maafkan aku atas segala pedih dan perih yang kau rasa
Maafkan aku atas segala egoku yang tak terkira
Sehingga kini kisah kita telah sirna

Kini kau sudah bersama dengannya
Merangkai kisah kasih penuh bahagia
Dan, aku masih disini
Menata kembali hati yang berantakan ini.

Farid
Slatri, 10 Oktober 2016

Minggu, 09 Oktober 2016

Surat Ke Sembilan

Slatri, 9 Oktober 2016
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apa kabar, Nok?
Mudah-mudahan semogaku dalam surat-surat yang sebelumnya terkabul. Kamu selalu sehat, sejahtera, bahagia dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.
Hari kemaren ada kejadian lucu. Pagi-pagi lagi asik-asik utak-atik vespa tercinta Si Om lewat, pertama ketemu langsung terlontar pertanyaan lucu. Doi nanya gini :
Si Om : "Pulang kapan? Kirain nggak berani pulang?" Sambil ketawa haha hihi.
Nah loh. Maksudnya apa coba nggak berani pulang? Tak tanya balik aja
Aku : "Kenapa juga nggak berani?"
Si Om : "Nggak takut dipukulin?"
Lah. Apalagi ini? Siapa yang mau mukulin anak lugu nan polos ini? Salah apa coba? Ada-ada aja. Duh. Tapi menurut pengamatan dari gerak-geriknya sih nyindir yang masalah kita. Si Abah yang dengerin cuma mesem kecut, kalo Abah orang batak temperamen mah udah dibagel batu bata kali itu orang, bukan karena belain aku, tapi karena cara ngomongya nyebelin. 😂😂
Siangnya bingung mau kemana, eh si hajir bikin undangan di facebook. Tanpa babibu langsung diiyakan aja, lah mau ngapain juga dirumah, mending main, nyari kopi gratisan dirumah orang. 😂😂
Cuss ke rumahnya Aisyah..
Dirumah Aisyah ngopi-ngopi ganteng sambil makan pisang goreng yang dibeli Si Aisyah melawati hadangan gerimis hujan. Enak bener bener jadi tamu.
Eh, dasar kita maniak remi. Udah merasa orangnya pas langsung deh  nyari tempat buat arena. Melihat kondisi yang kurang pas, akhirnya pindah ke rumah Hajir. Biar lebih khusuk main reminya. 😅😅
Disana ketemu Mamanya hajir sekeluarga, biasa salim sana sini dulu, biar kaya kelihatan kaya anak yang sholeh. 😂
Kopi udah dibuat, kartu udah dibagi, Mamanya Hajir dateng sambil bawa singkong rebus. Rejeki anak sholeh bener deh. Dan lucunya doi ngasih sambil ngomong "Udah, yi. Cari yang dibolehin aja.." Si Hajir langsung menimpali "Udah, Ma. Udah kelar.." Aku ngrasanya kaya apa ya? Kaya lagi ngerayain ulang tahun tapi kue ulang tahunnya meledak, udah gitu ledakannya kena muka. Joss!! 😂😂😂
Sisi baiknya, dari semua yang terjadi kemaren. Aku sadar, bahwa banyak yang perhatian sama aku. Alhamdulillah.
Kejadian yang terjadi kemaren ternyata membongkar sesuatu yang selama ini terlihat samar. Semua selalu ada hikmahnya.
Oiya, pas malam sabtu kemaren aku ngelihat kamu loh, bareng suami. Pas kamu pulang dari rumah Lik mu, yang si Hajir nyapa, aku ada situ pegangan tiang rumah, takut tumbang liat kamu berduaan. *hahabecanda* tapi Itu kejadian lumayan bikin nyess juga sih, aseli.
Tapi jujur aku seneng juga, ternyata kamu sehat, dan dari nada bicaramu kamu nggak merasakan hal yang selama ini aku khawatirkan. Hehe ✌🏻️
Wah. Aku kebanyakan nulis nih. Capek bacanya? Hahaha maaf ya. Mau gimana lagi, hal-hal kaya gini biasanya aku share ke kamu. Mumpung nulis masih gratis juga, kalo udah bayar mah mungkin enggak bakal sebanyak ini nulisnya. 😂😂
Surat yang ke sembilan ini aku akhirin dulu deh, takut kamu kecapekan baca. Mending tulisannya manfaat, wong cuma curhatan bocah doang. Bikin lelah mata aja. Hehe
Kamu yang sehat ya. Makan yang teratur, banyakin makan sayur, buah mah sedikit aja. Bau. Mandi yang bersih, pake sabun biar wangi, pake sampo biar rambut panjangnya nggak kusut, jangan banyak mikir biar nggak cepet ubanan, jangan kecapekan. Dan yang paling utama, jangan lupa senyum, disamping bikin cantik juga ibadah. Sambil menyelam minum air. 😊😊
Akhir kata..

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Sabtu, 08 Oktober 2016

Malam itu

Wajahmu dalam gelap dimalam itu
Aku ingat jelas
Lenggok indah langkahmu di gang diwaktu malam
Aku rekam jelas dalam ingatan
Kau dan dia berjalan beriringan,
Dan aku hanya memandang dari kejauhan

Semakin dalam aku ingat,
semakin dalam kegelisahan yang datang

Kata sapamu pada malam itu
Suara pertama yang ku dengar setelah semua kisah kita berlalu
Meski kata sapa itu bukan untukku
Aku terdiam, memandang, hanya mampu bergumam
"Harusnya kita yang beriringan, bukan kau dan dia."

Namun, inilah kenyataan
Sekarang aku sendirian
Menunggu waktu dimana semua pedih yang kurasa hilang
Menanti hari dimana hati akan lagi terisi
Meski aku tak tau berapa lama waktu lagi itu terjadi

Farid
Slatri, 8 Oktober 2016



Jumat, 07 Oktober 2016

Surat Ke Delapan

Slatri, 7 Oktober 2016
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apa kabar (lagi), Nok?
Semoga tetap sehat, sejahtera, bahagia, dilimpahkan keberkahan, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.
Masih belum bosen baca surat kan ya? Jangan bosen dulu ya. Eh, tapi kalo emang udah bosen juga nggak papa kok. Bosen nggak bosen juga nggak mempeengaruhin aku buat berhenti nulis. Jadi pertanyaan bosen nggak bosen tadi cuma basa-basi, sambil mikir mau nulis apaan entar. 😂😂
Pulang kampung kali ini berasa ada yang aneh, ada pahit-pahitnya dikit kaya kopi racikan sendiri. 😂
Entah kenapa dari awal naik bis dari cirebon tadi pagi perasaannya agak gimana gitu, bayang-bayangmu sering banget tiba-tiba muncul diingatan. Pulang ke rumahpun ada perasaan yang aneh, pokoknya nggak kaya biasanya lah. 😄
Oiya. Semalam tadi aku ziarah ke makamnya Sunan Gunung Djati, rame bener kaya ada pembagian sembako yang di tv-tv. Usut punya usut ternyata semalam itu malam jumat kliwon, pantes aja peziarahnya banyak banget. Ada yang mandi di air sumur apa gitu, katanya banyak khasiatnya. Salah satunya biar cepet dapat jodoh, mau ikutan mandi malu soalnya dibadan ada panu, takut dilihatin orang. Bukanya dapat jodoh malah dapet malu. 😂
Kamu lagi sibuk apa, Nok? Sibuk jadi Istri Rumah Tangga? Ati-ati jangan terlalu capek. Kondisi badan kamu kan cengeng, gampang banget sakit. Jangan terlalu banyak fikiran, kamu kan udah berkeluarga jadi biarin kepala rumah tangga yang mikir, kamu santai in aja. Biar sehat terus. Kalo sehat terus kan enak mau ngapa-ngapain juga, keluarga juga jadi tenang, seneng kalo lihat anggota keluarganya pada sehat. 😁
Masalah makan jangan dianggap sepele. Buang jauh-jauh kebiasaan lama, mulai makan yang bener, teratur. Inget, kamu udah punya dua keluarga. Jadi kalo ada apa-apa yang khawatir tuh bukan cuma keluargamu doang, tapi keluarga besan juga.
Sayangi mereka yang menyayangimu, sayangi juga mereka yang belum menyayangimu. Kalo belum bisa dengan perilaku, dimulai dengan doa, dengan tidak membuat mereka khawatir.
Eh, ngomong apa sih aku ini? Hahaha nglantur. Maaf.
Eh, katanya abis jengukin Alea ya? Wih. Nggak ngajak-ngajak. Tau mau jengukin mah aku balik dari hari senen deh, biar jenguknya bareng. 😁😁
Si Alea endut ya sekarang? Aku dulu jenguk masih kecil baner. Tapi kemaren lihat di fb kok jadi cubby gitu. Endut. Oiya.. udah pengin punya dede belum, Nok? 😃😁
Mau ngobrolin apa lagi ya? Masih dikit banget ini yang ditulis. Kalo ngobrol mah pasti ada aja yang diobrolin, sampe berjam-jam. Enggak kelar-kelar.
Ini leher ada yang aneh deh. Masa setiap jalan keluar dan ngelwatin depan gang rumah kamu ini leher otomatis nengok ya? Kayaknya perlu diurut deh, takut ada syaraf yang kena. 😂
Udahin dulu deh. Beberapa hari ini enggak ada yang menarik yang perlu diceritain, tapi ada ding yang menarik. Bayang-bayangmu. Menarikku biar terlarut dalam khayal. *apaan sih* *abaikan* 😂
Oke. Selamat menikmati hari-hari ya, Nok. Sehat terus, bahagia terus, senyum terus.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Rabu, 05 Oktober 2016

Surat Ke Tujuh

Pantura, 5 Oktober 2016
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apa kabar, Nok?
Mudah-mudahan dalam keadaan sehat, bahagia, sejahtera, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin
Bosen ya lihat surat-surat yang aku tulis? Keseringan ya? Atau emang nggak suka? Hehe
Tapi ya gimana lagi, aku bisanya cuma gini, nulis surat. Tanya kabar, tanya ini itu, ya meskipun nggak kejawab juga. Meski cuma komunikasi searah, tapi ya nggak papa. Soalnya cuma lewat surat ini aku bisa nanya kamu dengan bebas, tanpa batasan kata, kalimat, ataupun waktu. Aku juga -sekarang- nggak terlalu berharap lebih dengan datangnya balasan surat kok. Ya karena posisinya udah nggak memungkinkan juga, kesibukanmu pasti sudah mulai bertambah. Surat ini jadi semacam tempat aku menceritakan hal yang biasanya aku ceritain ke kamu, juga sebagai media terapi buat merubah kebiasaan itu -kalo bisa-. Jadi, kamu nggak usah terlalu mikirin apa yang aku tulis disurat ini. Kalo kamu baca aja udah Syukur Alhamdulillah.
Nggak kaya beberapa bulan yang lalu, kamu nggak bales whatsapp ku aja aku kadang ngomel. Maafin ya?. Hehe
Oiya, kali aja kamu mau tau kabarku. 
Aku sehat banget, badan masih utuh, perut masih buncit, mungkin muka doang agak tirus. Efek diet. Hahaha
Muka tirus rambut gondrong, jadi flashback jaman dulu deh. Yang tampilannya kaya pemakai narkoba. 😂
Cuman masalah di dada doang nih, kadang sering sesek. Ukuran dadanya kurang gede kali ya, harusnya XL. 😂
Keluarga gimana? Semua personil sehat semua kan ya? Mudah-mudahan sih iya. Sehat semua. Soalnya sekarang periksa ke dokter mahal, jadi jangan sampe sakit. Kamu juga, jangan sampe sakit. Dari pada buat periksa ke dokter kan mending uangnya dipake buat yang lain. Beliin aku handsaplast misalnya, buat plaster hatiku yang banyak luka. Hahaha *becanda* 😅
Eh, mau nanya dong.
Baju yang dulu warna ungu itu gimana? Udah pernah dipake? Bagus nggak bajunya? Dipake nyaman? Kalo nggak nyaman entar tak omelin itu yang jual. Hehe
Oiya. Aku rencana minggu ini mau pulang ke rumah, entah kenapa kangen banget sama kampung, padahal belum ada sebulan pulang.
Rencananya sih abis pulang sehari-dua hari mau langsung bablas ke jombang, mau nenangin diri, bedoa. Kali aja itu yang didada bisa mulai jarang sakit. Tapi kayanya enggak jadi deh. Soalnya Abah-Ibu lagi di Cirebon katanya aku suruh mampir, mau diajakin ziarah juga entar malam jumat. Padahal kan tau sendiri aku nggak pinter doa-doa. Eh malah diajakin Ziarah ke Makamnya Sunan Gunung Jati. Ada-ada aja. 😑
Si Abah-Ibu tau aja ini anaknya lagi Galau stadium empat. Jadi diajakin ke tempat-tempat gituan biar bisa tenang, biar dapet hidayah. Untung nggak dimasukin ke RS atau Pondok Pesantren, biar direhabilitasi. Hahaha
Surat ini aku tulis di bis yang mau arah ke cirebon. Udah lama banget enggak naik bis, tadi juga naik angkot. Kaya merasakan kejadian lama yang terulang kembali. *lebay* 😂
Padahal tadi pagi orang kantor pada wasapin, bodo amat deh. Minggu kemaren juga udah izin buat ngambil libur.
Kamu nggak liburan, Nok?
Liburan tuh penting loh. Apalagi buat pasangan baru, buat ngeciptain kedekatan emosional diantara pasangan, makin akrab satu sama lain, semakin ngerti satu sama lain. Jadi, semakin bahagia. Ke Guci misalnya, sewa vila 2 hari misalnya. Asik bener. 😁
Aku ceritanya kebanyakan ya? Hahaha maaf.
Ya udah, aku lanjut ceritanya besok-besok lagi. Jangan pernah bosen ya buat baca surat disini, tapi kalaupun bosen aku bakal tetep nulis kok. Sampai nanti disuatu waktu aku tak lagi merasa sesak didada saat membayangkan wajahmu.
Kamu yang sehat ya, Nok disana. Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti segala hari-harimu. Inget ya, senyummu itu manis. Jadi jangan pernah lupa buat senyum! 😊

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Selasa, 04 Oktober 2016

Masih Tertuju Padamu

Masih Tertuju Padamu

Ku mulai menghitung hari yang berlalu
Hadir bayangmu dalam lamunku
Mengenang masa dimana kita berkahayal menjadi satu
yang nyatanya sudah jauh berlalu
Betapa indah waktu itu
Sayang, apakah kau pun begitu?
Berkahayal tentang aku dan kamu menjadi satu

Aku tak pernah ingin melupakanmu, apalagi benci
Sekian masa, sekian cerita telah kita lalui bersama
Suka duka kita bagi bersama
Apa mungkin sanggup untuk kulupa?

Aku tak pernah tau
Kenapa aku harus mencintaimu
Meski cinta ini urung menjadi satu
Tapi, tapi aku tak pernah ingin cinta ini berlalu
Cinta dan rindu ini masih tertuju padamu
Meski sudah terlarang rasa itu untukku
Tapi biarlah,
Biar kusimpan dalam qalbu,
kesebut dalam sunyi, kutangisi sendiri.

Farid
Bekasi, 4 Oktober 2016

Senin, 03 Oktober 2016

Surat Ke Enam

Bekasi, 3 Oktober 2016.
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apakabar, Nok?
Semoga saja tetap sehat, dilimpahkan segala kebahagiaan dan selalu dalam lindungan Allah SWT. -Aamiin-
Wah. Aku kesorean nulis surat buat kamu ya? *eh nggak peduli? Oke* Hehe
Hari ini aseli sibuk banget. Gegara dikerjain Um Zahru, udah ngasih kerjaan dari hari selasa eh malah belum dikerjain sama sekali. Hari minggu baru dikerjain bareng *amsyong deh*. Akhirnya lembur sampe malem, paginya mobat-mabit sana sini, senin siang baru kelar. Dan jam dua ada meeting di Atrium Senen yang buat kerjaan yang pernah tak ceritain ke kamu. Rutenya asik banget depok-bekasi-pasar senen-bekasi lagi. 😑
Balik ke kantor sore ke ujanan. Duh! *eh, nggak penting ya?* *abaikan* 😂😂
Oiya. Obat gimana? Diminum terus kan ya? Rutin? Jangan lupa diminum sampe abis. Biar itu penyakit enggak dateng-dateng lagi. Perasaan hobi banget itu penyakit nempel deh. Andai itu penyakit bisa tukeran tempat sama aku ya? Hehe
Makan jangan lupa yang teratur, biar sistem imun dibadan bagus. Jadi enggak gampang sakit. Jangan banyak fikiran, banyak duit aja biar bisa beliin aku baju baja hitam. *becanda* ✌🏻😁
Kabar keluarga gimana, Nok? Sehat semua kan ya? Itu Mama udah sehat? Yang kemaren katanya sakit? Mudah-mudahan cepet sembuh ya.
Bingung nih mau cerita apa lagi. Aslinya sih banyak banget yang mau ditanyain, ini itu. Cuman susah nulisnya, maklum dari MI nggak pernah dapet nilai bagus di pelajaran Bahasa Indonesia, jadi agak susah buat nuangin apa yang ada difikiran ke tulisan. Anak bodoh. Hehe
Ya udah deh. Kayaknya cukup deh, dari pada nulisnya tambah ngelantur.
Kamu yang sehat ya. Jangan lupa senyum. Biar wajah ayu-mu tambah ayu. Mudah-mudahan aku, kamu, kita selalu diberi kekuatan, selalu diberikan kebahagiaan. 😊
Sekian dulu. Makasih banget udah mau baca. *baca kan ya?*😂

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Sabtu, 01 Oktober 2016

Surat Ke Lima

Bekasi, 1 Oktober 2016
Assalamualaikum Wr. Wb.

Apa kabar, Nok?
Semoga selalu sehat, bahagia dan selalu dalam lindungan Allah SWT. -Aamiin-
Tak terasa sudah seminggu lebih pernikahan mu. Happy Weeksary yah. Semoga kebahagian selalu menyertaimu. *bersulang*
Seminggu ini rasanya kaya digunung sahara, panas. Tapi sedikit demi sedikit rasa yang bikin nggak nyaman itu berkurang, meski kadang-kadang datang menyerang.  Ya itu udah resiko sih, resiko cinta yang tak jadi satu. -Hehe- *abaikan*
Aku sudah tidak lagi menceritakan apa yang kurasa dengan mata berkaca-kaca, Nok. Aku sudah bisa sedikit tertawa meski dalam hati masih tak berubah. Pedihnya tak berkurang. Tapi biarkan, biarkan waktu yang menjadi algojonya. Yang kulakukan hanya pasrah.
Eh, Nok..
Foto yang tempo hari kamu kirim lucu ya, pake kimono. Itu maksudnya apa yak? Aku kok gak mudeng. Lagi mau ikut karnaval? Atau lagi mau berangkat honeymoon? Hahaha
Lucu sih fotonya, kaya model iklan mesin cuci S*nken. 😜😜😜
Bagus ya mesin cucinya? Aku mesti nabung 6 bulan tuh baru kebeli itu mesin cuci, itupun ngurangin jatah makan. -Hehe-
Untung kamu nikahnya sama dia, coba sama aku. Kamu masih berkutat sama sikat ember dan tangan tuh nyucinya, capek dan bikin kasar kulit. Semua pasti ada hikmahnya ya (dan sakitnya). -Hiks-
Eh, Nok. Aku masih punya berapa janji ke kamu yang belum ditepati ya? Kecuali jalan ke bandung ya. Itu nggak mungkin ditepati, bukan karena kamu udah punya suami, tapi karena aku nggak punya duit buat bayarin suami kamu juga. 😂
Beberapa janji itu insyaAllah bakal tetep ditepati, janji adalah janji. Tapi sabar ya, soalnya nggak waktu dekat juga sih nepatinnya. 😁
Oiya..
Sakit kepala kemaren gimana? Udah mendingan? Obatnya diminum dan sampe abis. Sayang kalo nggak diminum, udah bayar mahal tapi nggak diminum. Kalo nggak abis kasih aku aja sini buat persediaan kalo aku tiba-tiba sakit. Kan lumayan ada stok obat. 😁
Kamu cepet sehat ya, Nok. Biar bisa ketawa-ketiwi lagi bareng keluarga. Bukan bareng aku. -Hiks-
Surat yang ke lima ini tak sudahin sampe sini aja ya, biar entar di surat ke enam masih ada cerita yang bisa dibahas. 😂
Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertaimu. Jangan lupa senyum, biar langit tak lagi mendung.

Wasalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Jumat, 30 September 2016

Jumat Kedua


Jumat berkah -Aamiin-
Tak disangka udah seminggu sesuatu ini ku nikmati, pahit perihnya selalu hadir temani hari. Ku pikir pedih dan sembilu ini adalah candu, aku selalu saja melakukannya padahal satu-satunya yang bakal didapatkan adalah rasa sakit, tidak lebih dari itu.
Cinta ini bagai narkoba. Ya, narkoba. Persis. Mendengar kabarnya bagai menghisap heroin, sabu, ganja. Bikin semangat, bikin bahagia, dan kemudian berakhir dengan sakit dan duka -mati-. Kita semua tau, narkoba itu candu, cara penyembuhannya nggak mudah, perlu berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun. Sama, sama seperti rasa yang kurasa, sudah tau salah dan cuma bikin sakit tapi tetep dijaga. Tapi ini candu, tanpa itu aku kosong. Aku tak tau candu ini akan sembuh seberapa waktu.
Cinta ini salah? Tidak. Aku yang salah, yang sudah menempatkan cinta ini pada dia yang tak bisa aku beri bahagia.
Cinta tak pernah salah. Cinta yang kurasa in dari Tuhan, sebuah karunia. Jadi akan selalu ku jaga, meski yang kulakukan ini salah. Aku tak akan membuang cinta ini, aku hanya akan memindahkannya pada tempat yang baru, hati yang baru. Meski butuh seribu tahun waktu.

Jumat berkah. -Aamiin-
Hati yang kuat adalah hati yang mampu menerima berbagai macam masalah, dan tetep sabar. Tidak menyalahkan, tidak memaki, dan selalu berusaha menyelesaikan. Aku mungkin calon pemilik hati yang kuat, atau mungkin pemilik hati penyakitan. Hahaha biar waktu dan Tuhan yang menentukan, jalani saja apa yang terpampang dihadapan, manis pahitnya dunia itu sebuah bumbu. Pada akhirnya kita semua akan bahagia, entah didunia ataupun mungkin nanti di surga. -Aamiin-

Jumat berkah. -Aamiin-
Tuhan, aku tau rencana-Mu lebih indah dari apa yang aku bayangkan. Maka dari itu, berikan hamba keikhlasan untuk menjalani semua ini, berikan hamba kekuatan untuk menjalani hal yang tak sepele ini. Pasrahkan hamba, Tuhan. Agar kelak aku bisa tersenyum lepas menikmati rencana-Mu yang ternyata luar biasa indah.
Jumat berkah untuk kita semua. Semoga aku, kamu, kita selalu dalam lindungan Allah. Semakin kuat iman islamnya, semakin taqwa, semakin elok tingkah lakunya, dan semakin bahagia kehidupannya. -Aamiin-

Salam,
Farid

Surat Keempat

Bekasi, 29 September 2016
Assalamualaikum Wr. Wb.
Apa kabar, Nok?
Semoga selalu sehat, bahagia dan selalu dalam lindungan Allah SWT. -Aamiin-
Surat-suratku yang lalu masih belum dibalas, tapi kamu udah baca kan? Atau malah belum? Nggak papa. Surat yang aku tulis mungkin kamu pikir 7 curhatan jadi nggak perlu dibalas. Cukup dibaca, sekedar tau dan mengerti.
Beberapa hari ini aku agak kurang faham dengan apa yang ada difikiran, soalnya isinya kamu doang. Mungkin rindu. -Hehe-
Eh, aku masih boleh kan ngomong rindu ke kamu, Nok? 
Beberapa hari ini aku jadi seperti seseorang yang lain, jadi tukang ngintip, tukang stalking. Aku buka semua akun sosial mediamu, aku buka satu persatu, sampai aku buka akun kakakmu, dan aku menemukanmu disalah satu posting fotonya. Aku bahagia. Sesimple itu.
Bahagiaku ini seakan lebih sesimpel itu sekarang, hanya mendengar kabar, melihat tulisan, memandang fotomu sudah cukup bikin aku seketika semangat, dan senyum-senyum sendiri. -Hehe-
Sore kemaren aku iseng buka facebookmu lagi. Aku kaget bukan kepalang, facebookku kamu remove pertemanan. Reflek aku langsung tambah lagi, bodo amat dikira nggak tau malu. Kau sendiri yang bilang, meski kita tak jadi satu kita bisa menjadi sekutu. Teman. Aku sayangkan keputusanmu itu, biarkan kita tumbuh masing-masing ditempat dan hati yang baru. Tak perlu memutus tali silaturahmi yang sudah lama terjalin. Sakit memang tapi biarkan tangan dari sang waktu yang memutuskan, jangan kita sengaja memutuskan.
Aku sudah mulai gila? Mungkin. Kesadaranku sudah mulai hilang, menguap seiring berjalannya waktu.
Nok, pola makanmu udah normal? Udah doyan makan banyak? Makan terakhir nasinya berapa centong? Lauknya apa? Abis nggak? Kalo pola makanmu sudah normal aku turut senang, syukur Alhamdulillah. Sekarang gantian aku yang aneh. Kayaknya butuh jamu temu lawak. Soalnya nafsu makan akhir-akhir ini agak kurang beres. Tapi kamu jangan khawatir -kepedean-. Aku masih tetep kuat, perut masih buncit. -Hehe-
Nok..
Kalo aku minta kamu untuk tidak terlalu menjauh dariku apa boleh? Berkomunikasi seperti biasanya. Kirim sekata dua kata, asal aku mendapat kabar darimu. Tak perlu kita saling menjauh, toh kita memang sudah menjadi jauh.
Nok..
Akhir-akhir ini hidup terasa lebih berat, mungkin karena kau sudah lagi tak bersamaku. Sekarang aku yang sering berpikir aneh-aneh. Tapi ayo kita nikmati, nikmati masa untuk ku me-recovery dan masa mu untuk beradaptasi. Dengan ikhlas dan pasrah tentunya.
Nok, jika kau mengkhawatirkanku, kau tak perlu mengkhawatirkanku. Bahkan aku sendiri tak pernah mengkhawatirkan diriku sendiri, kau hiduplah dengan tenang bersamanya. Sekali lagi, janganlah kita saling menjauh. Biarkan hubungan kita berubah secara alami, tanpa paksaan.
Akhir kata. Bahagiaku adalah melihatmu bahagia. Meskipun aku fikir itu kalimat munafik. Jangan lupa senyum, karena keindahan dunia ada didalam senyummu.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Rabu, 28 September 2016

Untukmu


Ku terdiam disudut ruang, sepi tak berteman.
Muncul bayangmu, menari-nari di fikiran.
Ku terlalu larut begitu dalam di khayalku.
Indah.
Muncul tanyaku.
Mengapa aku menyayangimu?
Meski restu tak kunjung datang menyambutku.
Meski keadaan tak pernah menghendaki kita untuk bersatu.
Apakah cinta yang kurasa ini salah?
Sehingga cinta dalam hati ini harus terbelah.
Bukankah cinta selalu benar?
Namun kenapa tak pernah menang melawan kerasnya keadaan.
Rasa sayang ini ada tanpa ku minta.
Namun kenapa hanya pedih dan luka yang ku terima.
Melepas cinta yang telah lama terjaga.
Apa mungkin aku bisa?
Wahai Sang Dewi Cinta.
Sangat tepat kau tembakan panah asmara.
Sehingga kini hatiku terluka.
Karena Cinta.
Duhai Pujaan hati yang selalu dihati.
Cintaku akan selalu setia menanti.
Bersama rasa sakit yang tak pernah berkelit.

Farid, 28 September 2016

Selasa, 27 September 2016

Surat Ketiga

Bekasi, 27 September 2016

Assalamualaikum Wr. Wb.

Apa kabar, Nok?
Semoga kamu selalu sehat, bahagia, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. -Aamiin-
Kamu lagi sibuk banget ya? Sampe nggak sempet bales surat kemaren? Padahal tak tunggu bangget loh. -Hehe- Kali aja jawaban dari pertanyaan ada yang bisa dijawab di surat balasanmu. Tapi kalo emang lagi sibuk sih nggak papa. Sesuai janjiku juga, aku menulis surat untukmu dua hari sekali. Entah dibales atau enggak papa, hak kamu kok. Aku cuma bisa berharap. -Hehe-
Semalam lumayan ada yang bikin nyess dihati, saat aku iseng-iseng stalking facebook kamu. Kepo banget ya? Tapi ya itu kenyataannya. Mau nggak kepo tapi pengin tau kabar, jadi ya mesti kepo dong, demi tahu kabar sang pujaan hati yang sudah menjadi is*ri. Ya meskipun yang dicari nggak ketemu juga. -Hiks- 
Oiya. Kamu tau yang bikin nyess itu apa? Adalah karena status balasan suratmu kamu hapus. Entah dengan alasan apa aku nggak tau, tapi jujur karena kamu hapus balasan surat yang singkat itu aku jadi nggak karuan. Ya, meskipun itu adalah hak preogratifmu sih. Tapi, surat balasan itu sangat berharga buatku, meski singkat, berbentuk status, tapi itu menunjukan segala perasaanmu padaku. Dan kalau surat balasanmu dihapus, apakah perasaanmu padaku juga ikut terhapus, Nok?
Kamaren kau kasih kabar. Aku sangat bahagia, meski sedikit sakit. Kita berbalas pesan, saling tanya kabar. Kau bilang kau selalu membebaniku, padahal aku juga sebaliknya padamu, Dan, kemudian aku ingat saat-saat kau meminta tolong apapun kepadaku, apapun itu. Aku rindu.
Nok, aku rindu. Ya, meskipun aku tak lagi punya hak untuk merindukanmu. Tapi jujur, hati ini, sepi, sunyi, dan mungkin mati tanpamu. Kehilanganmu adalah sebuah bencana terbesar dalam hidupku yang pernah aku terima sampai saat ini. 
Ingin rasanya aku duduk bersamamu, bercerita tentang apa yang aku rasa, mengutarakan cinta yang tak pernah aku ucap. Aku rindu, Nok.
Aku kemarin iseng-iseng lihat galeri foto dihape. Kamu tau kan? Hapeku penuh dengan kenarsisanmu, setiap kali hapeku kau pinjam, kamu pasti berfoto-foto ria. Aku rindu. Aku memandang fotomu penuh rindu, aku ingin memelukmu seperti saat itu. Saat kau masih menjadi milikku yang kupikir akan menjadi selamanya.
Setiap malam sebelum tidur selalu saja muncul bayanganmu, selalu terbayang kau bersama dia. Hancur. Setiap bangun tidurpun bayangmu tak pernah absen, selalu datang tanpa terlambat.
Nok, aku tak menuntutmu untuk selalu memberi kabar padaku. Tapi sesekali tolong balas suratku, tulislah dengan jujur segala apa yang kau rasakan dalam balasan surat, agar aku tau kapan aku bisa bertahan dan kapan aku bisa menyerah. 
Akhir kata. Semoga engkau bahagia, semoga aku bahagia, dan semoga kita bahagia.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Farid
Si punguk yang terlalu mencintai bulan.

Minggu, 25 September 2016

Lelah!



Aku lelah dengan kesendirian ini

Pagi, siang, sore, maupun malam selalu berulang.
Aku fikir hanya mereka yang berulang.
Sakit yang ada didada-pun demikian, Selalu berulang.
Pedih.
Aku fikir patah hati tak sepahit ini.
Aku fikir kehilangan cinta tak sesakit ini.
Aku fikir semua akan seperti biasa, tak kusangka aku bisa sehancur ini.
Pedih.
Ingin rasanya aku memaki, pada waktu yang tak mau berhenti.
Ingin rasanya aku berteriak, pada keadaan yang tak pernah berpihak.
Dan, kini aku hanya terdiam di pojok ruang.
Menangisi penyesalan yang tak lekas hilang.
Wahai, Sang pemilik hari. Sang penguasa waktu.
Aku lelah dalam kesendirian ini.
Tolong. Jangan biarkan jiwa dan hati ini berlarut dalam kesedihan dan kepedihan.
Keluarkan aku dari rasa kesendirian ini, Kesepian ini.
Ini terlalu menyakitkan.
Andai waktu bisa terulang.
Ingin rasanya mengahapus segala kebodohan dengan kebijaksanaan.
Agar rasa pedih dihati tak menggangu saat aku sendiri.
Dan, Jika saja tangan ini mampu.
Ingin rasanya aku membalur warna putih di atas kanvas kehidupan yang terlanjur suram.

Hitam, Samar, dan Berbayang.

Surat Kedua

Bekasi. 25 September 2016

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apakabar, Nok?
Mudah-mudahan sehat, bahagia selalu dan juga selalu dalam lindungan Allah SWT. -Aamiin-
Makasih ya surat pertama kemaren dibalas, meski tak sesuai harapan -kependekan, celana anak sd aja udah banyak yang panjang. Hehe-. Rasa ingin tahuku tidak sesingkat itu. Tapi tidak mengapa, meskipun singkat tapi sudah cukup bahagia -dan sedih-. *suara nyamuk*
Eh, Nok. Aku punya cerita lucu.
Kamu inget nggak? Aku pernah cerita yang aku chating sama Nia beberapa minggu lalu? Iya. Percakapan yang doi menanyakan masalah pernikahan yang dipikir itu pernikahan kita. –Hehe- Dan, yang akhirnya dia nanya doa biar cepet dilamar. Aku bilang baca Al Ikhkas 10x dan bayangkan keinginannya. Kamu tau lucunya? Doi mempraktekan nya. -HAHAHA- Dia fikir kita yang akan menikah padahal bukan. –Hiks- Apa tata kalimatku terlalu meyakinkan ya? Jadi doi menyangka kita yang akan punya acara. Asli aku merasa ini lucu, meskipun ada sedihnya. -Hehe-
Oiya, Nok. Dulu aku selalu bilang biar kamu selalu kuat mengadapi cobaan ini, cobaan itu, dan kau selalu bilang susah. Sekarang aku tau rasanya mencoba untuk kuat dan benar apa katamu, Susah. Akhir-akhir ini dada selalu sesak, -padahal aku sudah nggak merokok tembakau-, kepala sakit selau menjadi temanku melawati hari. –Hiks- Maaf udah sok tau soal itu, apa yang kau ucap memang benar.
Kamu tahu? Hari yang lalu ada yang bilang kalau kau, dipernikahanmu kemaren kau terlihat bahagia. Aku akan senang jika itu memang kenyataan –meski aku sedikit merasa tertipu-, dan  akupun bisa melangkahkan kaki ini dengan tenang tanpa mengkhawatirkan kebahagianmu lagi. Aku lelah, Nok. Teramat lelah. Dengan segala perasaan yang selalu berulang-ulang ini. Aku lelah merasakan sakit yang  berulang-ulang ini. Aku lelah tapi aku tak bisa isitirahat, selalu datang begitu saja tanpa ampun.
Nok, boleh aku minta satu permintaan?
Aku ingin melihat foto pernikahanmu, aku ingin melihat betapa bahagianya kalian saat itu. Aku ingin melihat betapa bahagianya kamu saat itu. Tunjukan aku fotomu bersamanya di singgasana pengantin. Agar aku bisa meyakinkanku bahwa kau akan bahagia, dan akupun akan –berusaha- menjadi bahagia.
Dari beberapa teman, sahabat, dan keluarga yang memberi saran dan wejangan banyak yang bilang kalau mereka yakin bahawa kau akan bahagia. –Aamiin- Kata Mereka ‘Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Maka dari itu, mereka juga meyakinkanku untuk menjemput kebahagianku yang lain -dari pada menjadi perusak rumah tangga seseorang-.
Oiya, Nok. Pas kamu ganti foto profil di BBM. Um Zahru langsung kirim Whatsapp.
Ini nih tak Screenshot :

Rasanya bisa nyess banget tapi ya lucu aja. –HAHAHiks- Doi emang emang becandanya suka gitu. Suka pas banget kena dihati. -HAHAHiks-
Tak sudahin dulu ya suratnya, disurat selanjutnya semoga kita bisa saling bertukar pengalaman, bertukar kebaikan, saling menceritakan kisah masing-masing, menceritakan kebahagian masing-masing, saling menguatkan satu sama lain. Agar kita bisa menjadi pribadi yang mampu menghadapi setiap cobaan hidup, baik kecil ataupun besar. Kita semua tau, manusia itu pasti akan berubah sejalan dengan berputarnya waktu. Semoga kita termasuk dikelompok orang yang berubah menjadi lebih baik.  -Aamiin-
Selamat Bahagia, Nok. -Bersambung-

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid


*menulis surat sambil dengerin rekaman smule mu boleh juga, banyak pengucapan lirik yang nggak pas sama nadanya, dan, suaranya lucu. Jadi kadang bikin ketawa sendiri. HAHA*

Jumat, 23 September 2016

Surat Pertama

Bekasi, 23 September 2016

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apakabar, Nok? Mudah-mudahan selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT ya. Aamiin.
Aku juga disini sehat, waras, bergas dan trengginas, cuman satu yang agak kurang sehat. You Know lah. Hehe
Eh. Gimana acara kemaren? Lancar?
Aku sebenernya kemaren pengin banget dateng, banget-banget. Ngeliatain kamu berdandan ala artis ibu kota, yang bedaknya setebel satu centimeter. -Hehe Becanda-
Pengin lihat kamu jadi ratu sehari -ya meskipun kamu udah jadi ratu dihatiku bertahun-tahun sih-, pengin lihat kamu jadi putri cantik sehari -padahal kamu emang cantik tiap hari-, pengin lihat kamu jadi artis sehari yang sana-sini minta foto, dan pula aku ingin melihatmu menjadi miliku untuk terakhir kali, sebelum manjadi milik orang lain. Hiks..
Tapi apa daya, jarak dan restu menghalangi. Aku tak diperkenankan datang dihari spesialmu, dihari yang paling indah dihidupmu, dihari yang paling ramai dan menyenangkan dalam hidupmu. Hanya doaku yang mampu aku kirimkan padamu.
Eh, Nok..
Kamu tau nggak? Sudah dua hari ini aku selalu ngecek facebook, Selalu me-refresh timeline facebook, berharap ada beberapa fotomu tampil diberanda. Meski itu pasti akan membuatku luka, tapi entah kenapa aku ingin sekali melihatmu dalam busana pengantin yang indah nan megah. Tapi sampai saat surat ini ditulis untukmu, masih saja diberanda facebook aku belum menemukan sepotongpun foto pernikahanmu. -Kepo ya? Hehe-
Oiya..
Kemaren pas mau pulang dari kantor disini hujan deres banget, niat hati sih pengin ujan-ujanan, sekalian ngademin ati -lebay-. Tapi aku inget pesen mu yang nggak boleh ujan-ujanan. Bahkan kalo mendung aja suka nanya gini "Bawa jas ujan nggak, Mas?" -Hehe-. Jadi terpaksa deh niat ujan-ujananya dibatalkan, pulangnya jadi agak malem, kamu tau nggak? padahal udah ditungguin si Karung Beras dikontrakan, doi basah kuyup katanya, kedinginan menunggu si Abang Ayi datang. -Hehe-
Abis sampe kontrakan, suasana dingin habis ujan enak banget buat makan yang anget-anget, pedes, dan berkuah. Indomie telor ayam bawang campur cabe udah kepikiran. Tapi, tiba-tiba aku keingetan pesen kamu lagi. Nggak boleh makan mie instan sering-sering. 
Biasanya kita berdialog gini :
Kamu : Lagi apa?
Aku : Lagi mau masak Mie.
Kamu : Makan mie aja terus! Biar ususnya keriting! -dengan nada yang agak galak-galak gitu-
Aku : Emmmm... iya deh.
Sebel sih, tapi entah kenapa aku seneng pake banget. Bahagia. *suara nyamuk*
Dan, Akhirnya. Rencana Mie Instan yang super enak pun terurungkan juga. Dan hanya bisa menahan lapar sampai pagi. eh, sampai siang ding. Hehe
Eh, udah dulu ya..
Lanjut lagi di surat selanjutnya ya, kalo kamu sempet, bales ya suratnya. Terserah dibalas via apa. -Hehe- Itu kalo sempet dooang loh. Aku nggak maksa. -tapi ngarep-
Kamu yang sehat ya, biar gemuk. Jadi kalo entar kita ketemu aku bisa pangling, kali aja jatuh cinta sama kamu lagi. Dan, kita mulai cerita yang baru lagi. Hehe
Eh, tambahan. Aku sholatnya masih lancar loh. -Pamer- :p

Akhir kata.
Wasalamu Alaikum Wr. Wb.

Farid

Jumat Pertama. Terima Kasih, Tuhan!

Jumat berkah. (Aamiin)
Pagi ini masih berasa sama seperti pagi kemaren.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun tidur dan langsung mengecek handphone, berharap ada pesan masuk darimu. -Deg- sesaat langsung dadaku sesak, aku lupa kau sudah bersamanya mulai hari kemaren. Muncul lagi kegalauan diotak kiri dan kanan, muncul lagi penyesalan dihati yang kerdil ini, dan aku rasakan lagi pahit yang berulang-ulang ini.
Pagi ini aku masih merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan kemaren. Pagi ini rasa ikhlas itu belum datang menyelimuti hati, meski rasa pasrah sudah dicoba beberapa kali. Berat. Entah kapan aku bisa ikhlas, entah sampai kapan aku akan bergelut dengan pedih dan pahit ini, entah sampai kapan cinta dalam hati ini tak melukaiku lagi.
Jumat berkah. (Aamiin)
Tuhan, berikanlah apapun yang bisa membuatku berhenti merasakan luka itu. Entah itu hal yang buruk kepadaku, ataupun yang baik. Sembuhkan aku. Bahagiakan dia.
Tuhan, berikan keikhlasan yang dalam dan besar padaku, pada dia, dan pada kita untuk menjalani setiap kerikil dalam perjalanan hidup ini. Agar aku, dia, dan kita tak menanyakan padamu "Kenapa Engkau lakukan semua ini pada kita?" "Kenapa Engkau memutuskan kita dengan cara yang sepahit ini, Tuhan?" "Kenapa harus aku? Kenapa harus dia? Kenapa harus kita?". Maafkan kelancanganku, Tuhan. Iklasku baru seujung kuku, sabarku baru sebiji jeruk. Aku masih menjadi pribadi yang rendah. Maafkan aku, Tuhan.
Tapi, Tuhan. Jika boleh jujur, aku masih mencintainya, harapku untuk hidup bersamanya masih ada dalam hati, khayalku untuk menikmati masa muda sampai tua masih lekat di otak kanan dan kiri. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Semakin aku merasakan apa yang ada dihati, mengingat khayalku yang ada dikepala dada mendadak sesak, kepala mendadak sakit. Aku harus bagaimana, Tuhan?
Tuhan. Engkau tau, dialah satu-satunya perempuan yang paling aku sayangi selain keluargaku. Engkau tau dengan jelas akan hal itu. Namun kenapa Engkau perlakukan aku seperti ini? Maafkan aku, Tuhan. Keluhku terlalu banyak padaMu.
Meski aku tak bisa bersama dengannya. Biarkan doaku yang aku panjatkan untuknya selalu bersamanya. Kau Bahagiakan dia, Kau sehatkan dia selalu. Aku akan selalu -mencoba- bahagia saat aku tau dia sudah bahagia.
Terima kasih, Tuhan. Karena semua ini akhirnya aku tau, cintaku pada dia bukan hal yang sepele, bukan hal yang gampang dicampakan.
Selamat, Jumat. Berkah untuk kita semua!
Salam, Farid.

Kamis, 22 September 2016

Selamat Menempuh Hidup Baru, Rembulanku!

Hari ini, Kamis 22 Sepetember 2016. Hari yang sangat bersejarah bagimu, bagiku, bagi kita. Hari dimana semua hal tentang perasaan kita dipaksa untuk terhenti, dipaksa untuk menepi, dipaksa untuk mati.
Hari ini, malam nanti setelah ijab qabul diserukan silelaki -yang entah kenapa aku benci sekali dengannya- kau bukan lagi menjadi seorang perempuan, kau akan menjadi seorang istri. Pedih sangat apa yang aku rasakan, kacau. Setiap sepi kesempatan hanya muncul penyesalan, dan tumbuh khayalan. Khayalan yang sering kita perbincangkan. Dulu.
Hari ini, kepala ku berat, dadaku sesak, mataku selalu melihat samar. Aku tak tau harus apa, aku tak tau akan menjadi apa. Kau perempuan yang selalu menjadi lawan marahku, kawan senangku, sekarang menjadi milik seseorang. Dan, aku hanya bisa diam.
Entah bagaimana caranya aku bisa bertahan.
Cintaku ini mungkin sudah tak berarti apa-apa, tidak bisa merubah apa-apa lagi, tidak menghasilkan apa-apa lagi selain pedih dan perih. Namun, ini adalah cinta yang mengingatkan aku denganmu, menghangatkan hatiku yang dingin, yang pernah meramaikan hatiku yang sepi. Cinta ini, biarlah ku simpan sendiri, dalam sepi.
Bahagialah, Sayang. Mungkin ini adalah takdir yang sudah tercatat.
Berbahagialah dengan jalan yang sudah terpampang dihadapan, berbahagialah demi aku yang ada dibelakang, berbahagialah demi semua yang menyayangimu. Jika kau bahagia, aku pastikan aku juga akan selalu -mencoba- bahagia. Doa ku akan selalu terucap setiap hari untuk kebahagianmu.
Selamat menempuh dan menjalani hidupmu yang baru, Rembulanku.
Akupun akan mencoba menjalani hidup yang baru, Tanpamu, Tanpa Kita.
Tetap Sehat, Sayang. Aku percaya, Allah itu Maha Adil. Ada rencana yang lebih besar dibalik sebuah ujian yang besar.

Dan, akhirnya ."Saya terima sakit dan pedihnya cinta yang tak menjadi satu bersama Siti Mualindah Binti Bapak Sunar dengan rasa ikhlas dan pasrah. Dibayar tunai."



Senin, 22 Agustus 2016

...

Untukmu si Ratu Penghuni Hati.
Aku mencintaimu dengan kesendirianku!

Sampai diujung!

Hari berjalan begitu lambat akhir-akhir ini. Detik waktu seakan malas berubah ke angka yang selanjutnya, lebih memilih diam dan menertawakan aku yang sangat mengecewakan. Untuk dia dan untuk diriku sendiri.
Kisah yang telah kita buat dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun akhirnya sampai pada ujungnya. Segala rasa suka duka yang mewarna perjalanan kisahpun hanya akan menjadi sebuah kenangan yang haram untuk diingat. Kita tak bisa bersama.
Angan yang dulu pernah melayang-layang difikiran sekarang hanya akan menjadi sumbu akan sebuah penyesalan. Sekarang, semua angan hanya akan menjadi angan. Untuk sekarang  dan entah berapa hari kedepan, berapa minggu kedepan, berapa bulan kedepan atau bahkan berapa tahun kedepan aku akan merasa sehancur ini. 
Aku yang menggali kuburanku sendiri, aku yang menyebabkan semua ini terjadi. Aku tak layak menyalahkan siapapun di dunia ini. Hancur tidaknya aku, biar Engkau yang putuskan, Tuhan. Aku tak tau apa yang akan aku lakukan selain pasrah. Hidup ini milik-Mu, Tuhan.
Tuhan, bahagiakan dia dalam setiap hari-harinya. Hapus semua luka dalam hatinya, buang semua padaku. Cukup saja aku yang hancur!

Minggu, 14 Agustus 2016

Abah, Ibu. Maafkan aku.

Abah, ibu.
Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan kalian.
Maafkan aku yang masih sering membuat kalian geram dengan segala tingkah polahku ini.
Abah, ibu.
Maafkan aku untuk segala hal yang belum bisa aku beri.
Maafkan aku karena tidak bisa menjadi seperti anak-anak yang lain, yang mambahagiakan dan membanggakan orang tua mereka.
Abah, ibu.
Aku yang sekarang mungkin jauh diluar harapan kalian dulu padaku, aku minta maaf. Aku sangat menyesal untuk itu.
Mungkin terlambat untukku berusaha menjadi anak yang baik sekarang. Tapi yakinlah, aku akan selalu berusaha membuat kalian bangga dan bahagia mulai dari sekarang.
Sehat selalu Abah, Ibu. Aku sangat mencintai dan menyayangi kalian.

Sesal

Sabtu malam, seperti hari-hari biasa. Berkumpul dengan teman serantauan, bercanda kiri kanan, bermain kartu remi sampai larut, sambil kadang membicarakan hal yang berbau curhatan.
Dini hari menjelang, masing-masing kawan pulang ke peraduannya masing-masing, aku sendirian (lagi). Fikiranku menerawang tentang perbincangan minggu kemaren dengan beberapa kawan lama, kawan stm (sekarang smk). Kita bertukar kabar, bertukar cerita, pengalaman, pahit dan -beberapa- yang manis.
Berbincang tentang kabar kawan yang lain, tentang jadi apa mereka sekarang, dan seketika aku mengerdil.
Mereka, kawan-kawan stm seperjuangan sudah menjadi seseorang. Tapi, aku? Masih menjadi menjadi seorang bocah yang entah apa. Masih menjadi pemalas yang kesepian.
Melihat beberapa tahun kebelakang, si pemalas ini hanya melakukan hal yang tidak bermanfaat. Sedangkan mereka sudah banting tulang sedari muda. Terbersit penyesalan, "kenapa aku menyia-nyiakan waktu yang lalu dengan hal-hal yang bodoh".
Namun penyesalan ini tidak menghasilkan apa-apa, hanya rasa bersalah yang besar terhadap orang tua. Abah dan ibu.