Jumat, 30 September 2016

Jumat Kedua


Jumat berkah -Aamiin-
Tak disangka udah seminggu sesuatu ini ku nikmati, pahit perihnya selalu hadir temani hari. Ku pikir pedih dan sembilu ini adalah candu, aku selalu saja melakukannya padahal satu-satunya yang bakal didapatkan adalah rasa sakit, tidak lebih dari itu.
Cinta ini bagai narkoba. Ya, narkoba. Persis. Mendengar kabarnya bagai menghisap heroin, sabu, ganja. Bikin semangat, bikin bahagia, dan kemudian berakhir dengan sakit dan duka -mati-. Kita semua tau, narkoba itu candu, cara penyembuhannya nggak mudah, perlu berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun. Sama, sama seperti rasa yang kurasa, sudah tau salah dan cuma bikin sakit tapi tetep dijaga. Tapi ini candu, tanpa itu aku kosong. Aku tak tau candu ini akan sembuh seberapa waktu.
Cinta ini salah? Tidak. Aku yang salah, yang sudah menempatkan cinta ini pada dia yang tak bisa aku beri bahagia.
Cinta tak pernah salah. Cinta yang kurasa in dari Tuhan, sebuah karunia. Jadi akan selalu ku jaga, meski yang kulakukan ini salah. Aku tak akan membuang cinta ini, aku hanya akan memindahkannya pada tempat yang baru, hati yang baru. Meski butuh seribu tahun waktu.

Jumat berkah. -Aamiin-
Hati yang kuat adalah hati yang mampu menerima berbagai macam masalah, dan tetep sabar. Tidak menyalahkan, tidak memaki, dan selalu berusaha menyelesaikan. Aku mungkin calon pemilik hati yang kuat, atau mungkin pemilik hati penyakitan. Hahaha biar waktu dan Tuhan yang menentukan, jalani saja apa yang terpampang dihadapan, manis pahitnya dunia itu sebuah bumbu. Pada akhirnya kita semua akan bahagia, entah didunia ataupun mungkin nanti di surga. -Aamiin-

Jumat berkah. -Aamiin-
Tuhan, aku tau rencana-Mu lebih indah dari apa yang aku bayangkan. Maka dari itu, berikan hamba keikhlasan untuk menjalani semua ini, berikan hamba kekuatan untuk menjalani hal yang tak sepele ini. Pasrahkan hamba, Tuhan. Agar kelak aku bisa tersenyum lepas menikmati rencana-Mu yang ternyata luar biasa indah.
Jumat berkah untuk kita semua. Semoga aku, kamu, kita selalu dalam lindungan Allah. Semakin kuat iman islamnya, semakin taqwa, semakin elok tingkah lakunya, dan semakin bahagia kehidupannya. -Aamiin-

Salam,
Farid

Surat Keempat

Bekasi, 29 September 2016
Assalamualaikum Wr. Wb.
Apa kabar, Nok?
Semoga selalu sehat, bahagia dan selalu dalam lindungan Allah SWT. -Aamiin-
Surat-suratku yang lalu masih belum dibalas, tapi kamu udah baca kan? Atau malah belum? Nggak papa. Surat yang aku tulis mungkin kamu pikir 7 curhatan jadi nggak perlu dibalas. Cukup dibaca, sekedar tau dan mengerti.
Beberapa hari ini aku agak kurang faham dengan apa yang ada difikiran, soalnya isinya kamu doang. Mungkin rindu. -Hehe-
Eh, aku masih boleh kan ngomong rindu ke kamu, Nok? 
Beberapa hari ini aku jadi seperti seseorang yang lain, jadi tukang ngintip, tukang stalking. Aku buka semua akun sosial mediamu, aku buka satu persatu, sampai aku buka akun kakakmu, dan aku menemukanmu disalah satu posting fotonya. Aku bahagia. Sesimple itu.
Bahagiaku ini seakan lebih sesimpel itu sekarang, hanya mendengar kabar, melihat tulisan, memandang fotomu sudah cukup bikin aku seketika semangat, dan senyum-senyum sendiri. -Hehe-
Sore kemaren aku iseng buka facebookmu lagi. Aku kaget bukan kepalang, facebookku kamu remove pertemanan. Reflek aku langsung tambah lagi, bodo amat dikira nggak tau malu. Kau sendiri yang bilang, meski kita tak jadi satu kita bisa menjadi sekutu. Teman. Aku sayangkan keputusanmu itu, biarkan kita tumbuh masing-masing ditempat dan hati yang baru. Tak perlu memutus tali silaturahmi yang sudah lama terjalin. Sakit memang tapi biarkan tangan dari sang waktu yang memutuskan, jangan kita sengaja memutuskan.
Aku sudah mulai gila? Mungkin. Kesadaranku sudah mulai hilang, menguap seiring berjalannya waktu.
Nok, pola makanmu udah normal? Udah doyan makan banyak? Makan terakhir nasinya berapa centong? Lauknya apa? Abis nggak? Kalo pola makanmu sudah normal aku turut senang, syukur Alhamdulillah. Sekarang gantian aku yang aneh. Kayaknya butuh jamu temu lawak. Soalnya nafsu makan akhir-akhir ini agak kurang beres. Tapi kamu jangan khawatir -kepedean-. Aku masih tetep kuat, perut masih buncit. -Hehe-
Nok..
Kalo aku minta kamu untuk tidak terlalu menjauh dariku apa boleh? Berkomunikasi seperti biasanya. Kirim sekata dua kata, asal aku mendapat kabar darimu. Tak perlu kita saling menjauh, toh kita memang sudah menjadi jauh.
Nok..
Akhir-akhir ini hidup terasa lebih berat, mungkin karena kau sudah lagi tak bersamaku. Sekarang aku yang sering berpikir aneh-aneh. Tapi ayo kita nikmati, nikmati masa untuk ku me-recovery dan masa mu untuk beradaptasi. Dengan ikhlas dan pasrah tentunya.
Nok, jika kau mengkhawatirkanku, kau tak perlu mengkhawatirkanku. Bahkan aku sendiri tak pernah mengkhawatirkan diriku sendiri, kau hiduplah dengan tenang bersamanya. Sekali lagi, janganlah kita saling menjauh. Biarkan hubungan kita berubah secara alami, tanpa paksaan.
Akhir kata. Bahagiaku adalah melihatmu bahagia. Meskipun aku fikir itu kalimat munafik. Jangan lupa senyum, karena keindahan dunia ada didalam senyummu.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Rabu, 28 September 2016

Untukmu


Ku terdiam disudut ruang, sepi tak berteman.
Muncul bayangmu, menari-nari di fikiran.
Ku terlalu larut begitu dalam di khayalku.
Indah.
Muncul tanyaku.
Mengapa aku menyayangimu?
Meski restu tak kunjung datang menyambutku.
Meski keadaan tak pernah menghendaki kita untuk bersatu.
Apakah cinta yang kurasa ini salah?
Sehingga cinta dalam hati ini harus terbelah.
Bukankah cinta selalu benar?
Namun kenapa tak pernah menang melawan kerasnya keadaan.
Rasa sayang ini ada tanpa ku minta.
Namun kenapa hanya pedih dan luka yang ku terima.
Melepas cinta yang telah lama terjaga.
Apa mungkin aku bisa?
Wahai Sang Dewi Cinta.
Sangat tepat kau tembakan panah asmara.
Sehingga kini hatiku terluka.
Karena Cinta.
Duhai Pujaan hati yang selalu dihati.
Cintaku akan selalu setia menanti.
Bersama rasa sakit yang tak pernah berkelit.

Farid, 28 September 2016

Selasa, 27 September 2016

Surat Ketiga

Bekasi, 27 September 2016

Assalamualaikum Wr. Wb.

Apa kabar, Nok?
Semoga kamu selalu sehat, bahagia, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. -Aamiin-
Kamu lagi sibuk banget ya? Sampe nggak sempet bales surat kemaren? Padahal tak tunggu bangget loh. -Hehe- Kali aja jawaban dari pertanyaan ada yang bisa dijawab di surat balasanmu. Tapi kalo emang lagi sibuk sih nggak papa. Sesuai janjiku juga, aku menulis surat untukmu dua hari sekali. Entah dibales atau enggak papa, hak kamu kok. Aku cuma bisa berharap. -Hehe-
Semalam lumayan ada yang bikin nyess dihati, saat aku iseng-iseng stalking facebook kamu. Kepo banget ya? Tapi ya itu kenyataannya. Mau nggak kepo tapi pengin tau kabar, jadi ya mesti kepo dong, demi tahu kabar sang pujaan hati yang sudah menjadi is*ri. Ya meskipun yang dicari nggak ketemu juga. -Hiks- 
Oiya. Kamu tau yang bikin nyess itu apa? Adalah karena status balasan suratmu kamu hapus. Entah dengan alasan apa aku nggak tau, tapi jujur karena kamu hapus balasan surat yang singkat itu aku jadi nggak karuan. Ya, meskipun itu adalah hak preogratifmu sih. Tapi, surat balasan itu sangat berharga buatku, meski singkat, berbentuk status, tapi itu menunjukan segala perasaanmu padaku. Dan kalau surat balasanmu dihapus, apakah perasaanmu padaku juga ikut terhapus, Nok?
Kamaren kau kasih kabar. Aku sangat bahagia, meski sedikit sakit. Kita berbalas pesan, saling tanya kabar. Kau bilang kau selalu membebaniku, padahal aku juga sebaliknya padamu, Dan, kemudian aku ingat saat-saat kau meminta tolong apapun kepadaku, apapun itu. Aku rindu.
Nok, aku rindu. Ya, meskipun aku tak lagi punya hak untuk merindukanmu. Tapi jujur, hati ini, sepi, sunyi, dan mungkin mati tanpamu. Kehilanganmu adalah sebuah bencana terbesar dalam hidupku yang pernah aku terima sampai saat ini. 
Ingin rasanya aku duduk bersamamu, bercerita tentang apa yang aku rasa, mengutarakan cinta yang tak pernah aku ucap. Aku rindu, Nok.
Aku kemarin iseng-iseng lihat galeri foto dihape. Kamu tau kan? Hapeku penuh dengan kenarsisanmu, setiap kali hapeku kau pinjam, kamu pasti berfoto-foto ria. Aku rindu. Aku memandang fotomu penuh rindu, aku ingin memelukmu seperti saat itu. Saat kau masih menjadi milikku yang kupikir akan menjadi selamanya.
Setiap malam sebelum tidur selalu saja muncul bayanganmu, selalu terbayang kau bersama dia. Hancur. Setiap bangun tidurpun bayangmu tak pernah absen, selalu datang tanpa terlambat.
Nok, aku tak menuntutmu untuk selalu memberi kabar padaku. Tapi sesekali tolong balas suratku, tulislah dengan jujur segala apa yang kau rasakan dalam balasan surat, agar aku tau kapan aku bisa bertahan dan kapan aku bisa menyerah. 
Akhir kata. Semoga engkau bahagia, semoga aku bahagia, dan semoga kita bahagia.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Farid
Si punguk yang terlalu mencintai bulan.

Minggu, 25 September 2016

Lelah!



Aku lelah dengan kesendirian ini

Pagi, siang, sore, maupun malam selalu berulang.
Aku fikir hanya mereka yang berulang.
Sakit yang ada didada-pun demikian, Selalu berulang.
Pedih.
Aku fikir patah hati tak sepahit ini.
Aku fikir kehilangan cinta tak sesakit ini.
Aku fikir semua akan seperti biasa, tak kusangka aku bisa sehancur ini.
Pedih.
Ingin rasanya aku memaki, pada waktu yang tak mau berhenti.
Ingin rasanya aku berteriak, pada keadaan yang tak pernah berpihak.
Dan, kini aku hanya terdiam di pojok ruang.
Menangisi penyesalan yang tak lekas hilang.
Wahai, Sang pemilik hari. Sang penguasa waktu.
Aku lelah dalam kesendirian ini.
Tolong. Jangan biarkan jiwa dan hati ini berlarut dalam kesedihan dan kepedihan.
Keluarkan aku dari rasa kesendirian ini, Kesepian ini.
Ini terlalu menyakitkan.
Andai waktu bisa terulang.
Ingin rasanya mengahapus segala kebodohan dengan kebijaksanaan.
Agar rasa pedih dihati tak menggangu saat aku sendiri.
Dan, Jika saja tangan ini mampu.
Ingin rasanya aku membalur warna putih di atas kanvas kehidupan yang terlanjur suram.

Hitam, Samar, dan Berbayang.

Surat Kedua

Bekasi. 25 September 2016

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apakabar, Nok?
Mudah-mudahan sehat, bahagia selalu dan juga selalu dalam lindungan Allah SWT. -Aamiin-
Makasih ya surat pertama kemaren dibalas, meski tak sesuai harapan -kependekan, celana anak sd aja udah banyak yang panjang. Hehe-. Rasa ingin tahuku tidak sesingkat itu. Tapi tidak mengapa, meskipun singkat tapi sudah cukup bahagia -dan sedih-. *suara nyamuk*
Eh, Nok. Aku punya cerita lucu.
Kamu inget nggak? Aku pernah cerita yang aku chating sama Nia beberapa minggu lalu? Iya. Percakapan yang doi menanyakan masalah pernikahan yang dipikir itu pernikahan kita. –Hehe- Dan, yang akhirnya dia nanya doa biar cepet dilamar. Aku bilang baca Al Ikhkas 10x dan bayangkan keinginannya. Kamu tau lucunya? Doi mempraktekan nya. -HAHAHA- Dia fikir kita yang akan menikah padahal bukan. –Hiks- Apa tata kalimatku terlalu meyakinkan ya? Jadi doi menyangka kita yang akan punya acara. Asli aku merasa ini lucu, meskipun ada sedihnya. -Hehe-
Oiya, Nok. Dulu aku selalu bilang biar kamu selalu kuat mengadapi cobaan ini, cobaan itu, dan kau selalu bilang susah. Sekarang aku tau rasanya mencoba untuk kuat dan benar apa katamu, Susah. Akhir-akhir ini dada selalu sesak, -padahal aku sudah nggak merokok tembakau-, kepala sakit selau menjadi temanku melawati hari. –Hiks- Maaf udah sok tau soal itu, apa yang kau ucap memang benar.
Kamu tahu? Hari yang lalu ada yang bilang kalau kau, dipernikahanmu kemaren kau terlihat bahagia. Aku akan senang jika itu memang kenyataan –meski aku sedikit merasa tertipu-, dan  akupun bisa melangkahkan kaki ini dengan tenang tanpa mengkhawatirkan kebahagianmu lagi. Aku lelah, Nok. Teramat lelah. Dengan segala perasaan yang selalu berulang-ulang ini. Aku lelah merasakan sakit yang  berulang-ulang ini. Aku lelah tapi aku tak bisa isitirahat, selalu datang begitu saja tanpa ampun.
Nok, boleh aku minta satu permintaan?
Aku ingin melihat foto pernikahanmu, aku ingin melihat betapa bahagianya kalian saat itu. Aku ingin melihat betapa bahagianya kamu saat itu. Tunjukan aku fotomu bersamanya di singgasana pengantin. Agar aku bisa meyakinkanku bahwa kau akan bahagia, dan akupun akan –berusaha- menjadi bahagia.
Dari beberapa teman, sahabat, dan keluarga yang memberi saran dan wejangan banyak yang bilang kalau mereka yakin bahawa kau akan bahagia. –Aamiin- Kata Mereka ‘Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Maka dari itu, mereka juga meyakinkanku untuk menjemput kebahagianku yang lain -dari pada menjadi perusak rumah tangga seseorang-.
Oiya, Nok. Pas kamu ganti foto profil di BBM. Um Zahru langsung kirim Whatsapp.
Ini nih tak Screenshot :

Rasanya bisa nyess banget tapi ya lucu aja. –HAHAHiks- Doi emang emang becandanya suka gitu. Suka pas banget kena dihati. -HAHAHiks-
Tak sudahin dulu ya suratnya, disurat selanjutnya semoga kita bisa saling bertukar pengalaman, bertukar kebaikan, saling menceritakan kisah masing-masing, menceritakan kebahagian masing-masing, saling menguatkan satu sama lain. Agar kita bisa menjadi pribadi yang mampu menghadapi setiap cobaan hidup, baik kecil ataupun besar. Kita semua tau, manusia itu pasti akan berubah sejalan dengan berputarnya waktu. Semoga kita termasuk dikelompok orang yang berubah menjadi lebih baik.  -Aamiin-
Selamat Bahagia, Nok. -Bersambung-

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid


*menulis surat sambil dengerin rekaman smule mu boleh juga, banyak pengucapan lirik yang nggak pas sama nadanya, dan, suaranya lucu. Jadi kadang bikin ketawa sendiri. HAHA*

Jumat, 23 September 2016

Surat Pertama

Bekasi, 23 September 2016

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apakabar, Nok? Mudah-mudahan selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT ya. Aamiin.
Aku juga disini sehat, waras, bergas dan trengginas, cuman satu yang agak kurang sehat. You Know lah. Hehe
Eh. Gimana acara kemaren? Lancar?
Aku sebenernya kemaren pengin banget dateng, banget-banget. Ngeliatain kamu berdandan ala artis ibu kota, yang bedaknya setebel satu centimeter. -Hehe Becanda-
Pengin lihat kamu jadi ratu sehari -ya meskipun kamu udah jadi ratu dihatiku bertahun-tahun sih-, pengin lihat kamu jadi putri cantik sehari -padahal kamu emang cantik tiap hari-, pengin lihat kamu jadi artis sehari yang sana-sini minta foto, dan pula aku ingin melihatmu menjadi miliku untuk terakhir kali, sebelum manjadi milik orang lain. Hiks..
Tapi apa daya, jarak dan restu menghalangi. Aku tak diperkenankan datang dihari spesialmu, dihari yang paling indah dihidupmu, dihari yang paling ramai dan menyenangkan dalam hidupmu. Hanya doaku yang mampu aku kirimkan padamu.
Eh, Nok..
Kamu tau nggak? Sudah dua hari ini aku selalu ngecek facebook, Selalu me-refresh timeline facebook, berharap ada beberapa fotomu tampil diberanda. Meski itu pasti akan membuatku luka, tapi entah kenapa aku ingin sekali melihatmu dalam busana pengantin yang indah nan megah. Tapi sampai saat surat ini ditulis untukmu, masih saja diberanda facebook aku belum menemukan sepotongpun foto pernikahanmu. -Kepo ya? Hehe-
Oiya..
Kemaren pas mau pulang dari kantor disini hujan deres banget, niat hati sih pengin ujan-ujanan, sekalian ngademin ati -lebay-. Tapi aku inget pesen mu yang nggak boleh ujan-ujanan. Bahkan kalo mendung aja suka nanya gini "Bawa jas ujan nggak, Mas?" -Hehe-. Jadi terpaksa deh niat ujan-ujananya dibatalkan, pulangnya jadi agak malem, kamu tau nggak? padahal udah ditungguin si Karung Beras dikontrakan, doi basah kuyup katanya, kedinginan menunggu si Abang Ayi datang. -Hehe-
Abis sampe kontrakan, suasana dingin habis ujan enak banget buat makan yang anget-anget, pedes, dan berkuah. Indomie telor ayam bawang campur cabe udah kepikiran. Tapi, tiba-tiba aku keingetan pesen kamu lagi. Nggak boleh makan mie instan sering-sering. 
Biasanya kita berdialog gini :
Kamu : Lagi apa?
Aku : Lagi mau masak Mie.
Kamu : Makan mie aja terus! Biar ususnya keriting! -dengan nada yang agak galak-galak gitu-
Aku : Emmmm... iya deh.
Sebel sih, tapi entah kenapa aku seneng pake banget. Bahagia. *suara nyamuk*
Dan, Akhirnya. Rencana Mie Instan yang super enak pun terurungkan juga. Dan hanya bisa menahan lapar sampai pagi. eh, sampai siang ding. Hehe
Eh, udah dulu ya..
Lanjut lagi di surat selanjutnya ya, kalo kamu sempet, bales ya suratnya. Terserah dibalas via apa. -Hehe- Itu kalo sempet dooang loh. Aku nggak maksa. -tapi ngarep-
Kamu yang sehat ya, biar gemuk. Jadi kalo entar kita ketemu aku bisa pangling, kali aja jatuh cinta sama kamu lagi. Dan, kita mulai cerita yang baru lagi. Hehe
Eh, tambahan. Aku sholatnya masih lancar loh. -Pamer- :p

Akhir kata.
Wasalamu Alaikum Wr. Wb.

Farid

Jumat Pertama. Terima Kasih, Tuhan!

Jumat berkah. (Aamiin)
Pagi ini masih berasa sama seperti pagi kemaren.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun tidur dan langsung mengecek handphone, berharap ada pesan masuk darimu. -Deg- sesaat langsung dadaku sesak, aku lupa kau sudah bersamanya mulai hari kemaren. Muncul lagi kegalauan diotak kiri dan kanan, muncul lagi penyesalan dihati yang kerdil ini, dan aku rasakan lagi pahit yang berulang-ulang ini.
Pagi ini aku masih merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan kemaren. Pagi ini rasa ikhlas itu belum datang menyelimuti hati, meski rasa pasrah sudah dicoba beberapa kali. Berat. Entah kapan aku bisa ikhlas, entah sampai kapan aku akan bergelut dengan pedih dan pahit ini, entah sampai kapan cinta dalam hati ini tak melukaiku lagi.
Jumat berkah. (Aamiin)
Tuhan, berikanlah apapun yang bisa membuatku berhenti merasakan luka itu. Entah itu hal yang buruk kepadaku, ataupun yang baik. Sembuhkan aku. Bahagiakan dia.
Tuhan, berikan keikhlasan yang dalam dan besar padaku, pada dia, dan pada kita untuk menjalani setiap kerikil dalam perjalanan hidup ini. Agar aku, dia, dan kita tak menanyakan padamu "Kenapa Engkau lakukan semua ini pada kita?" "Kenapa Engkau memutuskan kita dengan cara yang sepahit ini, Tuhan?" "Kenapa harus aku? Kenapa harus dia? Kenapa harus kita?". Maafkan kelancanganku, Tuhan. Iklasku baru seujung kuku, sabarku baru sebiji jeruk. Aku masih menjadi pribadi yang rendah. Maafkan aku, Tuhan.
Tapi, Tuhan. Jika boleh jujur, aku masih mencintainya, harapku untuk hidup bersamanya masih ada dalam hati, khayalku untuk menikmati masa muda sampai tua masih lekat di otak kanan dan kiri. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Semakin aku merasakan apa yang ada dihati, mengingat khayalku yang ada dikepala dada mendadak sesak, kepala mendadak sakit. Aku harus bagaimana, Tuhan?
Tuhan. Engkau tau, dialah satu-satunya perempuan yang paling aku sayangi selain keluargaku. Engkau tau dengan jelas akan hal itu. Namun kenapa Engkau perlakukan aku seperti ini? Maafkan aku, Tuhan. Keluhku terlalu banyak padaMu.
Meski aku tak bisa bersama dengannya. Biarkan doaku yang aku panjatkan untuknya selalu bersamanya. Kau Bahagiakan dia, Kau sehatkan dia selalu. Aku akan selalu -mencoba- bahagia saat aku tau dia sudah bahagia.
Terima kasih, Tuhan. Karena semua ini akhirnya aku tau, cintaku pada dia bukan hal yang sepele, bukan hal yang gampang dicampakan.
Selamat, Jumat. Berkah untuk kita semua!
Salam, Farid.

Kamis, 22 September 2016

Selamat Menempuh Hidup Baru, Rembulanku!

Hari ini, Kamis 22 Sepetember 2016. Hari yang sangat bersejarah bagimu, bagiku, bagi kita. Hari dimana semua hal tentang perasaan kita dipaksa untuk terhenti, dipaksa untuk menepi, dipaksa untuk mati.
Hari ini, malam nanti setelah ijab qabul diserukan silelaki -yang entah kenapa aku benci sekali dengannya- kau bukan lagi menjadi seorang perempuan, kau akan menjadi seorang istri. Pedih sangat apa yang aku rasakan, kacau. Setiap sepi kesempatan hanya muncul penyesalan, dan tumbuh khayalan. Khayalan yang sering kita perbincangkan. Dulu.
Hari ini, kepala ku berat, dadaku sesak, mataku selalu melihat samar. Aku tak tau harus apa, aku tak tau akan menjadi apa. Kau perempuan yang selalu menjadi lawan marahku, kawan senangku, sekarang menjadi milik seseorang. Dan, aku hanya bisa diam.
Entah bagaimana caranya aku bisa bertahan.
Cintaku ini mungkin sudah tak berarti apa-apa, tidak bisa merubah apa-apa lagi, tidak menghasilkan apa-apa lagi selain pedih dan perih. Namun, ini adalah cinta yang mengingatkan aku denganmu, menghangatkan hatiku yang dingin, yang pernah meramaikan hatiku yang sepi. Cinta ini, biarlah ku simpan sendiri, dalam sepi.
Bahagialah, Sayang. Mungkin ini adalah takdir yang sudah tercatat.
Berbahagialah dengan jalan yang sudah terpampang dihadapan, berbahagialah demi aku yang ada dibelakang, berbahagialah demi semua yang menyayangimu. Jika kau bahagia, aku pastikan aku juga akan selalu -mencoba- bahagia. Doa ku akan selalu terucap setiap hari untuk kebahagianmu.
Selamat menempuh dan menjalani hidupmu yang baru, Rembulanku.
Akupun akan mencoba menjalani hidup yang baru, Tanpamu, Tanpa Kita.
Tetap Sehat, Sayang. Aku percaya, Allah itu Maha Adil. Ada rencana yang lebih besar dibalik sebuah ujian yang besar.

Dan, akhirnya ."Saya terima sakit dan pedihnya cinta yang tak menjadi satu bersama Siti Mualindah Binti Bapak Sunar dengan rasa ikhlas dan pasrah. Dibayar tunai."