Minggu, 12 Oktober 2025

Nostalgia.

 Pagi itu ceria. Ya, ceria.

Bahagia menyebar di dalam dada.

Bertukar kabar dengan si primadona.

Saling bertukar kata, bernostalgia.


Menikmati kisah masa lalu,

Berbagi rindu.

Meskipun dunia enggan menjadikan rindu ini untuk bersatu.


Hatiku berbunga, meski hanya dengan berbagi kalimat di chat wa.

Ya.. Cinta itu masih ada.


Meski kita sudah berjalan di jalur yang berbeda.

Menjalani cerita hidup masing-masing.

Engkau dengan ceritamu, aku dengan ceritaku.


Tapi tak dipungkiri, celah dihatiku selalu ada dirimu.

Ada rasa yang selalu terjaga.

Tak pernah tumbang, tak pernah hilang.


Engkau yang selalu jadi bagian mimpi ku.

Berbahagialah..

Akan selalu ada doa yg selalu tertuju padamu,

Meski bukan doa untuk menjadi satu.



Sabtu, 22 Oktober 2016

Rindu Untukmu

Rindu Untukmu

Malam tergusur oleh pagi
Suara nyamuk berdenging sangat keras
Sangat mengganggu
Lamunku jauh hingga bertemu denganmu
Manis pahit, duka bahagia, aku tak sanggup membeda
Yang ku tahu, aku sedang merindunya

Waktu tak pernah berhenti berputar
Namun hatiku masih saja tak berlaku benar
Goresan luka tak kunjung kering
Meski air mata sudah mengering

Rindu ini membuatku kaku
Rindu ini membuatku buntu
Namun aku tak bisa menghindar untuk merindu
Aku mencoba sekuat tenaga melepas rindu
Namun rindu itu malah semakin keras mendekap qalbu

Rindu ini datang tanpa undangan
Hinggap dihati
Memunculkan bayang-bayangmu di otak kanan dan kiri
Semakin kutenggelam dalam rindu, semakin sesak nafasku

Tuhan, jika rindu ini tak halal untukku
Jauhkan aku dari semua rasa itu
Jauhkan aku dari rasa rindu yang membelenggu
Sampai nanti aku membayangkan wajahnya tanpa sendu

Farid
Bekasi, 22 Oktober 2016

Selasa, 11 Oktober 2016

Surat Ke Sepuluh

Bekasi, 11 Oktober 2016
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apa kabar, Nok?
Semoga dalam keadaan sehat, bahagia, sejahtera dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin
Akhirnya doa-doa yang selama ini aku panjatkan sedikit demi sedikit terjawab, mudah-mudahan semua doa yang selalu terucap satu persatu terkabulkan. Aku tahu Allah memang tak pernah tidur, tak pernah mengabaikna satupun permintaan dari hambanya. Alhamdulillah. 😊😊
Ini adalah surat ke sepuluh, tak terasa waktu sangat cepat melesat maju. Seakan baru kemaren aku menulis surat pertamaku untukmu, sekarang sudah hampir selusin surat yang tak penting itu. Hahahabodoh.
Aku pernah berfikir, bahwa cinta yang aku rasa itu salah, keadaan itu tak pernah berpihak, waktu itu yang menghancurkanku, tapi ternyata bukan. Bukan Cinta, keadaan, ataupun waktu yang salah dan menghancurkanku. Mereka tidak pernah salah, mereka datang berjalan seperti kodratnya, harapanku sendirilah yang mengancurkan ku. Aku terlalu berharap sesuatu yang tak mungkin tergapai, terlalu melabungkan cita setinggi angkasa, hingga ketika jatuh rasanya sangat luar biasa. Dan ketika jatuh pada saat mencoba beranjak untuk berdiri tegak kembalipun seakan tak mampu.
Sudah lebih dari selusin hari aku lalui dengan sesuatu yang ternyata sia-sia, hanya membuat khawatir dan beban. Sekarang mungkin sudah saatnya aku kembali ke realita, aku memang tidak bisa menghilangkan rasa cinta yang sudah tertanam terlalu dalam, tapi disaat aku bisa melihat mu bahagia, entah kenapa aku menjadi lebih tenang, menjadi lebih ikhlas untuk merelakan dan melihatmu dengannya. Aku akan mulai bergerak perlahan, sedikit demi sedikit beranjak dari keterpurukan yang membosankan ini. Mulai lagi menghapuskan satu persatu segala cita yang pernah tercipta. 
Menerima keadaan adalah satu-satunya jalan, agar hidup kembali berjalan dengan sewajarnya seperti orang-orang kebanyakan.
Aku memasrahkan semua pada sang waktu, biar dialah yang mengubahku. Aku hanya perlu berjalan kedepan, meski mungkin akan sesekali menengok kebelakang. Piknik dalam kenangan.
Cinta ini tak pernah salah, Nok.
Cinta ini mengajarkan banyak hal, menghasilkan banyak rasa, membekaskan banyak cerita. Tidak mungkin rasa cinta adalah dosa, karena cinta datang langsung dari-Nya, bukan ciptaan manusia.
Keadaan yang terjadi dengan kita adalah yang terbaik untuk kita. Tak pernah sekalipun Allah menjerumuskan kita pada hal yang buruk. Meski aku sangat pernah tak berfikir demikian.
Aku rasa sudah saatnya aku mengurangi intensitas menulis surat untukmu, ya meskipun aku yakin surat-surat yang kutulis ini tidak ada penting-pentingnya untukmu. Cuma berisi curhatan konyol, siapa juga yang mau baca. Dan pula setiap kalimat tanya yang tertulispun tak pernah mendapatkan jawaban, permintaan pun tak pernah menghasilkan. Jadi aku fikir banyak kepercumaan.
Surat ke sepuluh ini adalah surat terakhir periode dua hari sekali, aku  mungkin akan tetap menulis surat untukmu, disaat rindu tak mungkin aku tampung lagi dalam sunyi, tak mampu lagi ku simpan dalam hati. Disaat itu hanya menulis surat aku bisa meluapkan rindu, meski aku rindu itu sudah tak halal untukku.
Aku tak pernah menyesal telah memilihmu menjadi penghuni didalam salah satu ruang dihati, aku juga tak pernah menyesal mwnghabiskan ribuan detik bersama denganmu. Aku hanya menyesal, saat bersama aku tidak terlalu membahagiakanmu.
Kamu yang sehat selalu ya, Nok. Bahagialah. Mulailah bersikap ekspresif, buanglah semua topeng, mulailah menjadi dirimu sendiri. Bahagia yang hakiki adalah bahagia yang lahir dan tumbuh dari hati. Menangislah pada saat kamu merasa sedih, teriaklah pada saat kamu merasa marah, dan tertawalah pada saat kamu merasa bahagia.
Berbahagialah. Segala doa terbaik aku panjatkan selalu untukmu, Nok.
Akhir kata..

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Senin, 10 Oktober 2016

Menata Kembali

Menata Kembali

Sendiriku dalam keheningan
Terpampang jelas segala penyesalan
Rancangan mimpi hancur berantakan
Hati membisu penuh kehampaan

Terpenjara aku dalam sepi
Tatap mataku kosong tak berarti
Selalu terjatuh aku saat berlari
Mengejar segala angan dan mimpi-mimpi

Lupakan segala kenangan yang telah tercipta
Biarkan lenyap seiring masa
Meskipun aku yakin tak akan pernah bisa

Maafkan aku atas segala pedih dan perih yang kau rasa
Maafkan aku atas segala egoku yang tak terkira
Sehingga kini kisah kita telah sirna

Kini kau sudah bersama dengannya
Merangkai kisah kasih penuh bahagia
Dan, aku masih disini
Menata kembali hati yang berantakan ini.

Farid
Slatri, 10 Oktober 2016

Minggu, 09 Oktober 2016

Surat Ke Sembilan

Slatri, 9 Oktober 2016
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apa kabar, Nok?
Mudah-mudahan semogaku dalam surat-surat yang sebelumnya terkabul. Kamu selalu sehat, sejahtera, bahagia dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.
Hari kemaren ada kejadian lucu. Pagi-pagi lagi asik-asik utak-atik vespa tercinta Si Om lewat, pertama ketemu langsung terlontar pertanyaan lucu. Doi nanya gini :
Si Om : "Pulang kapan? Kirain nggak berani pulang?" Sambil ketawa haha hihi.
Nah loh. Maksudnya apa coba nggak berani pulang? Tak tanya balik aja
Aku : "Kenapa juga nggak berani?"
Si Om : "Nggak takut dipukulin?"
Lah. Apalagi ini? Siapa yang mau mukulin anak lugu nan polos ini? Salah apa coba? Ada-ada aja. Duh. Tapi menurut pengamatan dari gerak-geriknya sih nyindir yang masalah kita. Si Abah yang dengerin cuma mesem kecut, kalo Abah orang batak temperamen mah udah dibagel batu bata kali itu orang, bukan karena belain aku, tapi karena cara ngomongya nyebelin. 😂😂
Siangnya bingung mau kemana, eh si hajir bikin undangan di facebook. Tanpa babibu langsung diiyakan aja, lah mau ngapain juga dirumah, mending main, nyari kopi gratisan dirumah orang. 😂😂
Cuss ke rumahnya Aisyah..
Dirumah Aisyah ngopi-ngopi ganteng sambil makan pisang goreng yang dibeli Si Aisyah melawati hadangan gerimis hujan. Enak bener bener jadi tamu.
Eh, dasar kita maniak remi. Udah merasa orangnya pas langsung deh  nyari tempat buat arena. Melihat kondisi yang kurang pas, akhirnya pindah ke rumah Hajir. Biar lebih khusuk main reminya. 😅😅
Disana ketemu Mamanya hajir sekeluarga, biasa salim sana sini dulu, biar kaya kelihatan kaya anak yang sholeh. 😂
Kopi udah dibuat, kartu udah dibagi, Mamanya Hajir dateng sambil bawa singkong rebus. Rejeki anak sholeh bener deh. Dan lucunya doi ngasih sambil ngomong "Udah, yi. Cari yang dibolehin aja.." Si Hajir langsung menimpali "Udah, Ma. Udah kelar.." Aku ngrasanya kaya apa ya? Kaya lagi ngerayain ulang tahun tapi kue ulang tahunnya meledak, udah gitu ledakannya kena muka. Joss!! 😂😂😂
Sisi baiknya, dari semua yang terjadi kemaren. Aku sadar, bahwa banyak yang perhatian sama aku. Alhamdulillah.
Kejadian yang terjadi kemaren ternyata membongkar sesuatu yang selama ini terlihat samar. Semua selalu ada hikmahnya.
Oiya, pas malam sabtu kemaren aku ngelihat kamu loh, bareng suami. Pas kamu pulang dari rumah Lik mu, yang si Hajir nyapa, aku ada situ pegangan tiang rumah, takut tumbang liat kamu berduaan. *hahabecanda* tapi Itu kejadian lumayan bikin nyess juga sih, aseli.
Tapi jujur aku seneng juga, ternyata kamu sehat, dan dari nada bicaramu kamu nggak merasakan hal yang selama ini aku khawatirkan. Hehe ✌🏻️
Wah. Aku kebanyakan nulis nih. Capek bacanya? Hahaha maaf ya. Mau gimana lagi, hal-hal kaya gini biasanya aku share ke kamu. Mumpung nulis masih gratis juga, kalo udah bayar mah mungkin enggak bakal sebanyak ini nulisnya. 😂😂
Surat yang ke sembilan ini aku akhirin dulu deh, takut kamu kecapekan baca. Mending tulisannya manfaat, wong cuma curhatan bocah doang. Bikin lelah mata aja. Hehe
Kamu yang sehat ya. Makan yang teratur, banyakin makan sayur, buah mah sedikit aja. Bau. Mandi yang bersih, pake sabun biar wangi, pake sampo biar rambut panjangnya nggak kusut, jangan banyak mikir biar nggak cepet ubanan, jangan kecapekan. Dan yang paling utama, jangan lupa senyum, disamping bikin cantik juga ibadah. Sambil menyelam minum air. 😊😊
Akhir kata..

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Sabtu, 08 Oktober 2016

Malam itu

Wajahmu dalam gelap dimalam itu
Aku ingat jelas
Lenggok indah langkahmu di gang diwaktu malam
Aku rekam jelas dalam ingatan
Kau dan dia berjalan beriringan,
Dan aku hanya memandang dari kejauhan

Semakin dalam aku ingat,
semakin dalam kegelisahan yang datang

Kata sapamu pada malam itu
Suara pertama yang ku dengar setelah semua kisah kita berlalu
Meski kata sapa itu bukan untukku
Aku terdiam, memandang, hanya mampu bergumam
"Harusnya kita yang beriringan, bukan kau dan dia."

Namun, inilah kenyataan
Sekarang aku sendirian
Menunggu waktu dimana semua pedih yang kurasa hilang
Menanti hari dimana hati akan lagi terisi
Meski aku tak tau berapa lama waktu lagi itu terjadi

Farid
Slatri, 8 Oktober 2016



Jumat, 07 Oktober 2016

Surat Ke Delapan

Slatri, 7 Oktober 2016
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Apa kabar (lagi), Nok?
Semoga tetap sehat, sejahtera, bahagia, dilimpahkan keberkahan, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.
Masih belum bosen baca surat kan ya? Jangan bosen dulu ya. Eh, tapi kalo emang udah bosen juga nggak papa kok. Bosen nggak bosen juga nggak mempeengaruhin aku buat berhenti nulis. Jadi pertanyaan bosen nggak bosen tadi cuma basa-basi, sambil mikir mau nulis apaan entar. 😂😂
Pulang kampung kali ini berasa ada yang aneh, ada pahit-pahitnya dikit kaya kopi racikan sendiri. 😂
Entah kenapa dari awal naik bis dari cirebon tadi pagi perasaannya agak gimana gitu, bayang-bayangmu sering banget tiba-tiba muncul diingatan. Pulang ke rumahpun ada perasaan yang aneh, pokoknya nggak kaya biasanya lah. 😄
Oiya. Semalam tadi aku ziarah ke makamnya Sunan Gunung Djati, rame bener kaya ada pembagian sembako yang di tv-tv. Usut punya usut ternyata semalam itu malam jumat kliwon, pantes aja peziarahnya banyak banget. Ada yang mandi di air sumur apa gitu, katanya banyak khasiatnya. Salah satunya biar cepet dapat jodoh, mau ikutan mandi malu soalnya dibadan ada panu, takut dilihatin orang. Bukanya dapat jodoh malah dapet malu. 😂
Kamu lagi sibuk apa, Nok? Sibuk jadi Istri Rumah Tangga? Ati-ati jangan terlalu capek. Kondisi badan kamu kan cengeng, gampang banget sakit. Jangan terlalu banyak fikiran, kamu kan udah berkeluarga jadi biarin kepala rumah tangga yang mikir, kamu santai in aja. Biar sehat terus. Kalo sehat terus kan enak mau ngapa-ngapain juga, keluarga juga jadi tenang, seneng kalo lihat anggota keluarganya pada sehat. 😁
Masalah makan jangan dianggap sepele. Buang jauh-jauh kebiasaan lama, mulai makan yang bener, teratur. Inget, kamu udah punya dua keluarga. Jadi kalo ada apa-apa yang khawatir tuh bukan cuma keluargamu doang, tapi keluarga besan juga.
Sayangi mereka yang menyayangimu, sayangi juga mereka yang belum menyayangimu. Kalo belum bisa dengan perilaku, dimulai dengan doa, dengan tidak membuat mereka khawatir.
Eh, ngomong apa sih aku ini? Hahaha nglantur. Maaf.
Eh, katanya abis jengukin Alea ya? Wih. Nggak ngajak-ngajak. Tau mau jengukin mah aku balik dari hari senen deh, biar jenguknya bareng. 😁😁
Si Alea endut ya sekarang? Aku dulu jenguk masih kecil baner. Tapi kemaren lihat di fb kok jadi cubby gitu. Endut. Oiya.. udah pengin punya dede belum, Nok? 😃😁
Mau ngobrolin apa lagi ya? Masih dikit banget ini yang ditulis. Kalo ngobrol mah pasti ada aja yang diobrolin, sampe berjam-jam. Enggak kelar-kelar.
Ini leher ada yang aneh deh. Masa setiap jalan keluar dan ngelwatin depan gang rumah kamu ini leher otomatis nengok ya? Kayaknya perlu diurut deh, takut ada syaraf yang kena. 😂
Udahin dulu deh. Beberapa hari ini enggak ada yang menarik yang perlu diceritain, tapi ada ding yang menarik. Bayang-bayangmu. Menarikku biar terlarut dalam khayal. *apaan sih* *abaikan* 😂
Oke. Selamat menikmati hari-hari ya, Nok. Sehat terus, bahagia terus, senyum terus.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid