Teringat dulu tentang seorang kawan, tentang perselingkuhan, tentang sebuah persabahatan (yang sekarang entah apa namanya). Hancur. Mengenang sebuah malam yang penuh dengan kata, penuh dengan duka, penuh dengan emosi, penuh dengan air mata (sepertinya). Malam itu sebuah titik balik dari segala persahabatan yang dulu erat, sebuah titik balik yang sama sekali tidak aku inginkan, bahkan untuk sekedar bermimpipun aku tak ingin.
Tentang pertengkaran pasangan -maaf- poligami dalam sebuah hubungan. Suara sendu menyeruak disetiap mulut tiga manusia ini, begitu pahit untuk didengarkan. Dengan masing-masing mata (yang sepertinya) sembab, memandang penuh dengan penyesalan. Bisa berbuat apa aku? Begitu lama aku dengarkan dialog tentang maaf, begitu banyak dialog tentang penolakan, begitu banyak dialog tentan penyesalan, begitu banyak dialog tentang sumpah serapah dan amarah, begitu banyak. Hingga seorang dari mereka, seorang karib, seorang sahabat mendadak sesak nafas, dan tumbang. Dengan emosi yang meledak-ledak, dengan begitu banyak rasa sakit yang dia rasakan dihati, dia tumbang. Aku terdiam, aku bingung, aku takut, dan... Aku menangis.
Ya.. Untuk pertama kalinya aku menangisi seseorang yang bukan keluargaku. Suaraku terbata-bata, isak tangis jelas terdengar dari mulut ini, menghiasi malam yang durja ini.
Habis sudah keperkasaan pria saat dia menangis, habis sudah
keangkeran mata pria saat dia terlihat menitikan air mata. Habis sudah.
Dua tahun peristiwa itu berlalu, meski masih lekat
diingatan, masih terpampang jelas di memori otak. Aku selalu menahan air mata,
sesusah apapun hidup yang dijalani, sepahit apapun hati yang sedang dirasa.
Tahan air mata. Buat diri ini kembali perkasa sebagai Pria.
Hingga akhirnya peristiwa itu kembali terjadi, dengan
diriku sendiri, dengan kisahku sendiri, dengan perasaanku sendiri, dan dengan
hati yang (sok kuat) ini, bukan tentang dia ataupun mereka. Terasa berat hidup
ini saat itu, dengan kau yang selalu mengisi hari demi hari dengan senyum,
dengan cemberut, dengan segala emosi. Sayang itu kembali tumbuh subur, kangen
itu kembali menyelimuti setiap hari dalam minggu. Kabar darimu seperti suplemen
kesehatan bagiku, seperti rokok dalam hari-hariku. Aku mencandumu.
Tapi ini harus berakhir, sebelum aku menyakitimu dengan
lebih, sebelum kau merasa tersakiti lebih dari lebih, dan sebelum aku tak mampu
melepasmu sama sekali. Dan aku harus memutuskan.
Dan akhirnya tiba saat aku membuat keputusan, yang entah
ini keputusan baik ataupun sebaliknya, biar Tuhan yang menentukan. Aku
menyakitimu untuk kesekian kali, entah ini keberapa ribu kali aku menyakitimu.
Namun entah kenapa keputusanku ini membuat aku merasa "hancur
berantakan".
Dan... Ya, hari itu aku menangis (lagi).
Hancur sudah keperkasaanku (lagi), hancur sudah. Berantakan. Hancur berantakan.
Kata maaf seaakan tak berhenti mengalir tertuju padamu. Sudah cukup aku menyakitimu. Sudah cukup aku bertubi-tubi manyakiti hatimu. Sudah cukup.
Terimakasih untuk semuanya, Untuk segalanya. Terima Kasih, Kasih.
"Tuhan, izinkan aku menangis sekali lagi..."
Dan... Ya, hari itu aku menangis (lagi).
Hancur sudah keperkasaanku (lagi), hancur sudah. Berantakan. Hancur berantakan.
Kata maaf seaakan tak berhenti mengalir tertuju padamu. Sudah cukup aku menyakitimu. Sudah cukup aku bertubi-tubi manyakiti hatimu. Sudah cukup.
Terimakasih untuk semuanya, Untuk segalanya. Terima Kasih, Kasih.
