Selasa, 06 Desember 2011

Rembulanku


Langit di Jakarta semakin gelap, pertanda hari semakin petang menuju malam. sangat berbeda dengan perasaanku sekarang (dibaca : cinta) padamu, semakin terang benderang bagai nyala sinar sang surya dikala siang menjelang, terang dan hangat. Hangat? Ah, mungkin itu terlalu berlebihan. Cintaku tak sehangat itu padamu, tapi dinginpun kurasa tidak. Anyeb, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkannya.
Tapi apalah artinya rasa itu, yang pasti aku jujur akan perasaan hatiku, jujur kalau aku menyayangimu sebagai salah satu penghuni salah satu gubuk diladang hatiku yang sekarang rindang akan tumbuhan-tumbuhan bernama cinta.
Berhari-hari kita menjalin hati, memupuk rasa, berbagi kata, bertukar cinta. Dan Kaupun sebut aku sebagai bintang hatimu. Seterang itukah aku? Jika kau sebut aku sebagai bintang hatimu, sedangkan aku hanya menyebutmu dengan sebutan nama, tanpa memberikan sebutan seperti apa yang kau berikan padaku. Jika aku ingin memberikan sebutan itu, sebutan apa yang pantas ku sematkan untukmu? Wanita yang selalu mencerahkan setiap hari-hariku, mengubah emosi jiwaku dengan senyum ceria. Sepertinya semua kata indahpun tak cukup untuk menunjukan keindahanmu itu. Namun jika boleh, kau kan ku sebut "Rembulanku", terang bak sang surya, namun cahayanya lembut bak kain sutra.
Yah, kaulah itu, Rembulanku. Penerang setiap gelap malamku, penghangat setiap dinginnya malamku, pengantar tidur dikala ngantuk menjelang, penghibur dikala kerja lembur datang, kaulah Rembulanku. Rembulanku yang tak pernah lelah memperhatikanku, tak pernah lelah mengingatkanku kalau aku telah mencintaimu, dan sangat menyayangimu. Dan aku menyayangimu lebih dari seorang perokok mencintai rokoknya, lebih dari sang pebola mencintai bola dan kakinya, lebih dari sang penulis mencintai kertas dan penanya, dan lebih dari sang baja hitam mencintai jubah hitam bajanya.
Kau bertahta istimewa dihati, menghuni setiap inchi ruang hati, menghuni setiap sela ruang otak kanan dan kiri. Kau penguasa hati, tapi maaf, kau tak sendiri. Namun kau tetap istimewa, dengan segala gelak tawamu, rasa curigamu, senyum ceriamu, kasihmu, dan semuanya, apapun itu, semua tentang mu wanitaku, Rembulan hatiku.
Episode hidupku telah berganti, sekarang aku tak sendiri, aku sekarang bersamamu, wanitaku yang selalu dihati. Semoga putaran jam dinding tak bisa memisahkan hati yang sudah rekat ini, dan semoga putaran jam dinding tak sanggup menghancurkan cinta yang baru terbangun dan insyaAllah indah ini.


Jakarta. 05, Desember 2011.
23.30 WIB.
Muhammad Farid Ahsan

Jumat, 02 Desember 2011

Huruf Vokal "A"


Huruf vokal A, itu judul tulisanku pagi ini, pagi yang melelahkan setelah bekerja seharian, dari jam 10 pag sampai jam 2 dini hari tadi. Gila, 17 jam. Tapi sudahlah, itulah tanggung jawab, tanggung jawabku akan sebuah pekerjaan. Jika harus begitu, ya berarti begitu.
Balik lagi ke huruf vokal "A", huruf vokal A, aku selalu suka dengan huruf itu, sebuah huruf hidup yang istimewa menurut aku, sebuah huruf yang bikin senang, bikin bahagia. Selalu ada huruf vokal "A" dihari-hariku, baik itu di rutinitas kegiatan sehari-hari, sampai dengan cinta.
Huruf vokal "A" itu istimewa, dinama lengkap aku ada 5 huruf A, yang membuat namaku itu menjadi indah, sangat indah rupanya. Nama panggilanku juga berawal dari A, AYI. Semua yang aku sayangi rata-rata mempunyai huruf istimewa itu yang terselip di rentetetan huruf-huruf dinamanya, sebuah huruf pemimpin dari semua huruf, huruf A.
Dan, tak disangka tak dinyana, cintaku selalu berlabuh dengan wanita yang mempunyai nama panggilan berakhiran huruf A. Semuanya, tak terkecuali. Ntah kenapa, mungkin aku sudah tsangat berjodoh dengan huruf yang satu itu, sebuah huruf penghidup kata, huruf A. Dan bahkan rokok yang setiap hari aku hisap pun belambang huruf A, tanpa rekayasa, dan itu memang benar adanya.
Huruf A, entah kenapa aku sangat menyukainya, menyanyanginya, bahkan mencintainya. Sebuah awal dari nama kecilku, dan akhir dari nama-nama seorang wanitaku dulu dan juga kini. :)
Dan akupun berfikir, kenapa nama kecilku berawalan huruf indah itu, dan wanitaku berakhiran dengan huruf itu pula. Dan akupun menemukan jawabanya. Karena dalam bahasa atau kata, Aku : AYI, dan Cinta : Wanita, dan wanitaku selalu berakhiran huruf A. Atau mungkin seperti ini. Atau mungkin tujuannya agar namaku dan wanitaku bisa selalu disambung menjadi sebuah nama yang unik. Ya, itu bisa saja.
Tapi apapun itu, aku selalu mencintai huruf A, baik di awal, di pertengahan, ataupun di akhir. Karena di kata ALLAH SWT, RASULULLAH SAW, KELUARGA, SAUDARA, SAHABAT, WANITA, CINTA dan BAHAGIA, dan banyak yang lainnya, yang terselip huruf A yang kekar, membahagiakan dan menyenangkan, serta menentramkan. Sebuah kata dan perasaan yang sangat dicari dalam kehidupan dunia, dan kita tak bisa hidup tanpa mereka.
Dan, akupun mencintai huruf vokal "A" apa adanya, seperti huruf "A" mencintaiku dengan apa adanya dan sangat istimewa. :)

Jakarta, 2 Desember 2011. 03.48 WIB.
Muhammad Farid Ahsan

Rabu, 30 November 2011

Berjudulkan Namamu.
















ladang hatiku kau tanamkan benih-benih cinta
kau sirami dengan kata-kata nista nan durja
tak kubiarkan benih cintamu itu tumbuh subur dihati
takan kubiarkan itu terjadi.

hari demi hari kau racuni aku dengan kata durja
kata durja yang mengandung banyak derita
kata cinta itu tepatnya.
ku tolak dengan berbagai cara.

dan aku tetap menolak kau suburkan ladang hatiku
dari benih-benih cintamu itu.
kau wanita yang terlalu baik untuk menjadi petani 
petani dilahan hati nan kelam ini.

kupikir kau akan menyerah karenanya
sebuah hal yang teramat sangat aku harapkan
sebelum hati ini terlalu lemah
terlalu lemah untuk menolak apa yang akan engkau berikan.

dan akupun menyerah.
hatiku kini tertambat di dermaga hatimu
kau menangkan pertarungan ini, 
kau hancurkan perisai kesombonganku akan cinta.

aku menyerah, dan terkapar penuh darah.
darah hitam penuh nista nan durja.
dan kau ganti dengan darah segar penuh cinta.
ladang hatikupun sudah penuh akan benih cintamu yang tumbuh subur
dan semakin rindang.

kau birukan hatiku, kau warnai hariku,
kau pelangikan warna kelam masa-masaku.
dan terimaksihku untukmu, wanitaku.


Jakarta, 30 November 2011. 15.00 WIB
Muhammad Farid Ahsan




Menulis Itu Seperti Hidup

Pagi ini, hari rabu 30 November 2011 di kantor, aku terpanggil untuk memperbaharui tulisanku lagi di blog, apapun isinya, apapun jenis tulisannya, tak masalah. Yang terfikirkan hanya menulis dan memperbaharui blog yang aku miliki.
Pertumbuhan itu ada, perubahan itu nyata adanya. Memang hidup itu seperti itu, pertumbuhan selalu berkesinambungan dengan sebuah perubahan, baik fisik, watak dan apapun yang terdapat pada diri kita. Dan saya merasakan itu, sebuah perubahan yang insyaAllah berubah menjadi lebih baik lagi. Dan perubahan yang paling aku banggakan itu bukan perubahan fisik, ataupun watak, namun gaya tulisan. Menurut ku perubahan dalam gaya tulisan ku sangatlah berbeda dengan gaya tulisan ku setahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu, dan bertahun-tahun lalu. Karena menurutku setiap gaya tulisan seseorang itu menunjukan semua yang ada pada dirinya, baik sifat, watak dan kepribadian. Yang dulu sewaktu masih belajar menggunakan baju seragam aku masih merangkai kata dengan kolaborasi huruf kecil, huruf besar dan angka, sebuah masa yang kelam rupanya. Kadangpun merasa malu sendiri jika mengingat masa-masa itu, sebuah rangkaian kata yang menunjukan kelabilan seseorang menurut ku. Karena : Kenapa harus susah-susah menggunakan angka jika hanya menggunakan huruf saja sudah mudah dan enak dibaca, kenapa harus menggunakan angka-angka dalam merangkai kata-kata pada sebuah kalimat? Bukankah itu merupakan salah satu bentuk kelabilan seseorang? Ya, menurut ku itu sebuah bentuk kelabilan seseorang, dan ini hanyalah sebuah pendapat pribadi aku sendiri.
Dan aku selalu terkesan dengan manusia-manusia yang mampu merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang indah, dan enak dibaca. Berasa ingin selalu belajar jika menemukan seseorang seperti itu, belajar untuk membuat sebuah karya dari rangkaian-rangkaian kata yang indah dan enak untuk dibaca. Bukan sekedar enak dibaca, namun juga mampu masuk ke hati, dan dicerna dengan otak dan juga menjadi sebuah pembelajaran bagi seseorang yang membacanya. Jika memang seperti itu ribuan lembar seratus ribuan pun tak mampu menggantikan sebuah perasaan itu. Sebuah nikmat yang tiada tara sepertinya, jika karya kita ada yang suka dan mampu menyerap hal-hal postive di dalamnya. Dan akupun menginginkan seperti itu.

Jakarta, 30 November 2011
10.16 WIB
Muhammad Farid Ahsan

Selasa, 29 November 2011

Bukan Penganggur Lagi


Jakarta, sebuah kota impianku setelah selesai dari tugasku sebagai pelajar, setelah menyelesaikan serangkan pelajaran selama lebih dari 15 tahun. Sebuah kota yang aku anggap kota penuh impian pada saat itu, kota yang sangat aku impikan, kota yang bisa menyatakan semua mimpi-mimpiku dihidup ini.
Jakarta, semuanya ada di sana, semuanya, lengkap. Seperti pasar swalayan yang menjual beraneka jenis kebutuhan sehari-hari.
Dan akhirnya aku pun berlabuh disini, dikota metropolitan, JAKARTA. Dengan tujuan pasti, yaitu mencari kerja, merebut impian dimasa depan. Awalnya keluarga agak kurang setuju akan sebuah pilihan yang aku pilih, karena hanya aku saja yang jauh merantau kejakarta, dan akupun seorang anak bontot yang seharusnya manja, dan tetap menghuni rumah dikampung, jikapun kerja aku tak boleh jauh dari kampung halaman.tapi hidup itu pilihan, dan aku memilih untuk ini, untuk menguji sejauh mana kekuatanku untuk menaklukan jakarta, kota impian ku ini.
Ke jakarta aku hanya berbekal seadanya, beberapa baju ganti, uang saku dari abah, ijazah D3, dan yang pasti do'a tulus dari ibu tercinta.
Tempat pertama yang aku kunjungi adalah kampung melayu, dimana banyak sodara-sodara satu kampung bertempat disitu. Di pecel lele bang Juhri aku mengistirahatkan badan aku, bersilaturahmi sekalian mencari tumpangan gratis untuk beristirahat. Dan jujur, awalnya aku tak punya tujuan kemana untuk menumpang, tapi optimis bakal mendapat tumpangan dari sodara-sodara yang diperantauan. :)
Hampir sebulan aku hidup di jakarta, uang saku sudah ludes buat bertahan hidup, dan aku sudah mulai menikmati kerasnya jakarta, aku menumpang kesana kemari, ketempat sodara, maupun kawan-kawan yang merantau di jakarta, jujur hanya untuk mendapatkan tumpangan dan makan gratis. Dari depok sampai tangerang aku menumpang.
Sebulan berlalu begitu cepat, dan pekerjaan pun tak kunjung aku dapatkan. Pekerjaan yang aku harapkan saat itu, yang di depan mata pupus seketika karena masalah kesehatan, aku down, bener-bener down dengan apa yang aku dapatkan saat itu.
Namun akhirnya ada teman yang menawarkan pekerjaan, Alhamdulillah. dan aku langsung menyambangi kantor itu, dan sebuah perjuanganku sebualan ini tak sia-sia, aku diterima kerja. aku diterima kerja bu. aku sudah dapat kerja bu, sudah bukan penganggu lagi bu. senang sekali saat itu, seperti ketiban reentuhan duit seratus ribuan. aku senang bukan kepalang. dan aku langsung mengabari ibu dan keluarga dibelahan bumi brebes sana. dan aku yakin disana ibuku dan keluarga bahagia mendengarnya. Rasa terima kasihku kepada semua sodara dan teman-teman yang rela memberikan tumpangan pada si penganggur ini, dan kelak jikalau aku sukses nanti insyaAllah aku takan melupakan betapa pentingnya pertolongan kalian saat itu. :)
Dan dikantor ini, sebelah selatan patung pancoran. kantor yang sekarang menjadi tempat berlabuh atas ilmu yang aku dapatkan dibangku sekolah. Sebuah kantor kecil, baru terbangun beberapa bulan. Dan Alhamdulillah aku nyaman disini, disebuah kantor kecil ini, yang penuh dengan orang-orang yang ramah, orang-orang yang menyenangkan. Aku betah. jujur aku betah, dan semoga akan selalu betah.
sudah enam bulan lebih aku disini, bekeja, bekarya, dan belajar. aku sudah mulai mengenal karakter masing-masing oang yang disini. Dan semoga banyak ilmu, banyak rejeki yang aku dapatkan dari perusahaan kecil ini, yang mudah-mudahan akan menjadi perusahaan yang besar dan bertahan lama suatu waktu nanti.
Namun mimpiku masih besar, masih banyak, masih berserakan diotak, aku tak boleh berhenti disini. Harus tetap berjuang. Dan semoga mimpi-mimpi itu akan bisa aku nyatakan, dengan sebuah perjuangan. Termasuk mimpi untukmu ibu dan abah, mimpi untuk mengantarkan kalian ditanah suci nan indah itu. Mekah. :)

Jakarta, 28 November 2011. 21.00 WIB
Muhammad Farid Ahsan

Selasa, 12 Juli 2011

yang tak terkalahkan


Mereka satu persatu pergi, teman sekecilku, karibku. Kalian ingat teman, saat-saat menyenangkan dulu, kita menghayal tentang hari esok, kita berlomba, siapa yang paling sukses dimasa mendatang, kita bersaing, siapa yang bisa dapat istri paling cantik, ingat itu…?

Perlombaan belum juga final, tapi kalian telah pergi…kalian curang…

Zam, sigit… Maaf bila ku lancang menulis nama kalian disini. Sengaja kutuliskan nama kalian, agar aku selalu tetap ingat, semangat kita, mimpi-mimpi kita, perlombaan kita, persaingan kita.

Memang nasib menyandera kalian, banyak kepedihan yang kalian alami, aku paham betul apa yang kalian rasakan, tapi aku bisa berbuat apa, waktu itu aku hanya anak kecil, yang tak tahu apa maunya orang dewasa. Orang dewasa punya jalan pikirannya sendiri. Mereka heboh dalam dunianya sendiri.

Mari kita mengingat masa-masa keemasan kita dulu, kita taklukan bukit malahayu dengan sepeda biru yang sudah berkarat itu, kita menanjak dan meluncur, kita kangkangi jalan raya yang tak berlampu, kita bunyikan mercon sebesar kaleng biskuit didepan masjid, tiga buah sekaligus, kita gagahi malam beramai-ramai, kita lempar dan remukkan kesombongan para orang tua, dan ketika kita tak mampu lagi untuk pongah, kita terbaring bersama-sama, bercengkerama, sambil menjalin mimpi kita, persaingan kita…

Dan berita itupun datang, ada pesan diponselku, bunyi nada pesan pendek itu biasa saja, seperti sebelumnya, aku tak merasakan firasat apa-apa. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kalian satu persatu telah pergi meninggalkanku, izroil menjemput, Tuhan memanggil kalian. Aku tidak menangis saat itu, aku hanya terdiam, tak tahu mau apa. Tapi bertahun-tahun setelah kepergian kalian berdua, hari ini aku menangis sejadi-jadinya, aku kalut. Aku belum sempat minta maaf, aku mau mengaku salah, kalau sepedamu yang bocor itu karena kecerobohanku, tapi semua sudah terlambat.

Sekarang baru aku sadar, kalian sukses mempecundangiku, kalian telah memenangkan perlombaan kita, persaingan kita, aku kalah telak. Tentu sekarang kalian sudah disurga, menikmati sungai dari susu, memakai minyak misik, makan dan minum apapun yang kalian mau, ditemani banyak bidadari.

Mungkin ada betulnya perkataan Hok Gie, orang yang beruntung itu orang yang mati muda.

Aku tinggal menunggu kapan giliranku, hingga ketika kita bertemu disurga nanti, kita akan berpetualang lagi dengan sepeda biru itu, tentu yang sudah kutambal, sebagai wujud permintaan maafku, karibku.

di kutip dari : http://maucokelat.wordpress.com/page/2/

Senin, 11 Juli 2011

SIMPANG LIMA ITU KENANGAN, DAN MONAS ITU HARAPAN.


Sebuah pagi di hari libur, teringat kawan yang tak pernah tau kabar rimbanya, jauh di sana, 500 KM ke timur sana, di semarang.

Simpang lima itu kenangan dan Monas itu sebuah harapan di masa depan. Seperti kau kawan, yang menganggap ku hanya sebagai kenangan, kenangan usang yang tidak pantas untuk menempati bagian kecil dari memori otakmu.

Pedih memang jika ku bandingkan masa lalu dulu saat kita bersama, beradu canda tawa berbagi suka duka, dan sekarang? Tak perlu ditanyakan lagi. Perpecahan dalam sebuah persahabatan. Hancur.

Sakit memang merasakan perbedaan yang teramat sangat signifikan. Tapi hidup itu sebuah pilihan, sebuah keputusan untuk melanjutkan hidup.

Do'aku untuk kesuksesanmu kawan, berjalanlah dengan pilihanmu dan ku harap pilihanmu itu pilihan yang baik dan tepat.

Meski sebuah pertanyaan besar masih terpatri di otak ku, sebuah pertanyaan yang tak bisa ku hilangkan dari benakku. Kenapa kau hilangkan aku dari kehidupanmu kawan? Besarkah dosaku denganmu sehingga kau kutuk aku untuk tidak menjadi temanmu? Maafkan aku kawan.

Jakarta.

09.35 WIB.

Rabu, 29 Juni 2011 .

Selasa, 05 Juli 2011

CATATAN KECIL


Hari ini di sebuah pagi yang buta (belum subuh) dibulan desember, tanggal 24 tepatnya, 1 hari tepat sebelum temanku asal semarang bertambah umur, aku teringat akan memori kemaren, saat masih merantau di semarang, menimba ilmu selama 3 tahun lamanya, teringat akan gelak tawa teman-teman satu kost'an, teringat akan candaan khas teman sekumpulan, yang kami sebut diri kami adalah pendowo limo, sebuah kelompok kecil dalam kelas yang harinya di isi dengan candaan, cemoohan, ledekan, semua hal yang di rasakan menyenangkan(saat itu).

Kami pendowo limo, beranggotakan 5 orang lelaki, aku(farid), g_lunk(gilang), dirga, celenk (anom nama aslinya, mgkni mirip kali y jd dipanggil ky gitu?hahahaa), gondrong(robet). kami memiliki karakter jiwa yang hampir sama, yaitu pemberontak, meskipun latarbelakang "pendidikan jiwa" kami agak berbeda, tapi kita berkumpul, berkawan bagai keluarga, susah senang kami bersama. Kami satu kampus, satu jurusan, satu prodi dan satu kelas, kelas yang menurut saya kelas yang paling hancur, dengan manusia-manusia yang lengkap, ada yang bodoh sepertiku, ada yg pintar, ada yang cerdas namun bakil, ada yang biasa-biasa saja, dan adapula yang jenius, pokoknya kelas yang sangat kompleks menurut saya.

Kembali ke pendowo limo, semua yang kami lakukan hanya demi kesenangan belaka, hanya demi sebuah kebersamaan, ntah itu nyuri makanan dan rokok di kantin kampus, merusak fasilitas kampus, mencuri kabel tembaga untuk kami jual, menggoda para mahasiswi yang menurut kami bohay, sampai mabuk-mabukan, semua kami lakukan hanya demi kesenangan. Sebuah penglaman hidup yg cukup kelam rupanya namun menyenangkan.

Akan tetapi keberadaan pendowo limo tak berjalan mulus selama 6 semester, di semester yang ke empat teman kami sudah harus keluar dari kampus karena sudah bisa bekerja di PLN di tanggerang sana. Pendowo limo telah terkubur, meskipun kami masih bersahabat erat, karena sebuah posisi di pendowo limo tidak dapat digantikan.

Kami berempat dengan suasana yang baru namun dengan kegiatan yang hampir sama di tiap harinya, kamipun bertambah akrab dengan semua kawan kelas, bertambah kompak dalam semua hal, kecuali mereka(orang-orang atas langit, calon orang-orang sukses) yang selalu memerintah kami, dan menolak apa yang kami perbuat.

Persodaraan dalam kelas pun terasa hangat, sangat menyenangkan bertemu dan beradu tawa dengan mereka, seakan waktu iri jika aku bersama mereka sehingga berputar sangat cepat. Perkawanan kami tak sekedar berkawan(itu menurut saya), kami berkawan lewat hati, kami jalinkan hati untuk sebuah ikatan yang insayaAllah akan abadi.

Puncaknya saat aku harus pergi dari kota atlas itu, kota semarang, kota yang mengajarkan ku banyak hal, memperkenalkan banyak teman yang menawan, memberikan sebuah pengalaman hidup yang aku harap cuma sekali itu saja. Tak sempat ku berpamitan dengan sodara-sodara ku itu kala itu, saat aku harus pergi meninggalkan kota atlas tercinta untuk berjuang memwujudkan sebuah cita-cita besar ku, mereka juga sedang meniti jalan kesuksesan lewat tes PNS, sekedar sms pun tak ku lakukan, karena aku takut mengganggu dalam mengerjakan soal ujian tes CPNS yang sedang mereka kerjakan.

Saat tiba di stasiun poncol aku hanya merasa biasa-biasa saja, seperti aku saat pulang kampung saat libur kuliah, namun berbeda saat ku masuk dan duduk di kereta kaligung, ada perasaan sedih, apa lagi saat gondrong mengirimkan sms, aku sedih betul saat itu, kami berbalas pesan dan tanpa dapat di tahan aku meneteskan air mata, air mata perpisahan, sebuah hari-hari hebat bersama kalian(teman-teman) kini telah tiada, semua akan menjadi kenangan yang sangat-sangat indah.

Aku rindu beradu tawa dengan kalian, aku rindu candaan-candaan khas kalian, aku rindu dengan semua tentang kalian. Sebuah kebersaaman yang mungkin tidak dapat ditemukan di sisi bumi belahan manapun.

Sekarang kalian sedang menata kehidupan, menata masa depan, begitu pula aku, dan aku selalu berdo'a agar kita semua berjalan digaris kesuksesan dan kebenaran.

Amien. . .amien y rabb. . .

Gerbong kereta.

24.25 WIB.

Jum'at, 24 Desember 2010 .