Sabtu, 15 Maret 2014

Terima Kasih Banyak, Naff.

Terendap laraku, muncul sebagai lagu utama di album Naff tahun 2003, dan cukup sukses merebut hati penikmat musik Indonesia. Dan kini, sepuluh tahun kemudian. Di tahun 2014 muncul sebagai sesuatu yang nyata didiriku, dan inipun cukup sukses mengacak-acak perasaanku. Terima kasih, Naff. Lagu "Terendap Laraku" milikmu bisa menyamarkanku saat mengungkapkannya saat bernyanyi. Terima kasih, Kasih.

*nyanyi* *sambil pegang botol* *botol aqua*

Jumat, 14 Maret 2014

Arrrggg...

Aku menyesal dengan keadaan
Aku menyesali kepengecutanku.
Aku menyesali segala keputusan yang ternyata menyakiti "kita".
Aku menyesali ketidak jujuranku.
Aku menyesali segala kesia-siaan yang kuberikan padamu.
Aku menyesali segala jerih payahku yang ternyata palsu.
Dan Aku akan sangat menyesali jika engkau benar-benar pergi meninggalku.
Aku menyesal.
Namun semoga saja aku tidak akan menyesali apa yang akan terjadi dimasa depan. Masa depanmu, masa depanku, dan masa depan kita.
Kau indah, kau teramat indah. Kau puisi dalam lembaran buku-buku hidupku. 
Kau gula alami, pemanis segala langkah hidupku.
Tanpamu setiap langkahku mungkin akan terasa pahit.
Tanpamu mungkin aku akan menjadi lemah.
Dan tanpamu rinduku kini tak bertuan.
Tapi semoga saja tanpaku kau kembali mekar, kembali bercahaya, dan menjadi lebih indah.
Maaf rembulan, bintangmu yang ternyata pengecut ini tak layak sebagai imammu dikala Sholat.