Senin, 10 Juni 2013

Tuhan, izinkan aku menangis.


Teringat dulu tentang seorang kawan, tentang perselingkuhan, tentang sebuah persabahatan (yang sekarang entah apa namanya). Hancur. Mengenang sebuah malam yang penuh dengan kata, penuh dengan duka, penuh dengan emosi, penuh dengan air mata (sepertinya). Malam itu sebuah titik balik dari segala persahabatan yang dulu erat, sebuah titik balik yang sama sekali tidak aku inginkan, bahkan untuk sekedar bermimpipun aku tak ingin.

Tentang pertengkaran pasangan -maaf- poligami dalam sebuah hubungan. Suara sendu menyeruak disetiap mulut tiga manusia ini, begitu pahit untuk didengarkan. Dengan masing-masing mata (yang sepertinya) sembab, memandang penuh dengan penyesalan. Bisa berbuat apa aku? Begitu lama aku dengarkan dialog tentang maaf, begitu banyak dialog tentang penolakan, begitu banyak dialog tentan penyesalan, begitu banyak dialog tentang sumpah serapah dan amarah, begitu banyak. Hingga seorang dari mereka, seorang karib, seorang sahabat mendadak sesak nafas, dan tumbang. Dengan emosi yang meledak-ledak, dengan begitu banyak rasa sakit yang dia rasakan dihati, dia tumbang. Aku terdiam, aku bingung, aku takut, dan... Aku menangis.

Ya.. Untuk pertama kalinya aku menangisi seseorang yang bukan keluargaku. Suaraku terbata-bata, isak tangis jelas terdengar dari mulut ini, menghiasi malam yang durja ini.
Habis sudah keperkasaan pria saat dia menangis, habis sudah keangkeran mata pria saat dia terlihat menitikan air mata. Habis sudah.
Dua tahun peristiwa itu berlalu, meski masih lekat diingatan, masih terpampang jelas di memori otak. Aku selalu menahan air mata, sesusah apapun hidup yang dijalani, sepahit apapun hati yang sedang dirasa. Tahan air mata. Buat diri ini kembali perkasa sebagai Pria.

Hingga akhirnya peristiwa itu kembali terjadi, dengan diriku sendiri, dengan kisahku sendiri, dengan perasaanku sendiri, dan dengan hati yang (sok kuat) ini, bukan tentang dia ataupun mereka. Terasa berat hidup ini saat itu, dengan kau yang selalu mengisi hari demi hari dengan senyum, dengan cemberut, dengan segala emosi. Sayang itu kembali tumbuh subur, kangen itu kembali menyelimuti setiap hari dalam minggu. Kabar darimu seperti suplemen kesehatan bagiku, seperti rokok dalam hari-hariku. Aku mencandumu.
Tapi ini harus berakhir, sebelum aku menyakitimu dengan lebih, sebelum kau merasa tersakiti lebih dari lebih, dan sebelum aku tak mampu melepasmu sama sekali. Dan aku harus memutuskan.
Dan akhirnya tiba saat aku membuat keputusan, yang entah ini keputusan baik ataupun sebaliknya, biar Tuhan yang menentukan. Aku menyakitimu untuk kesekian kali, entah ini keberapa ribu kali aku menyakitimu. Namun entah kenapa keputusanku ini membuat aku merasa "hancur berantakan".

"Tuhan, izinkan aku menangis sekali lagi..."

Dan... Ya, hari itu aku menangis (lagi).
Hancur sudah keperkasaanku (lagi), hancur sudah. Berantakan. Hancur berantakan.
Kata maaf seaakan tak berhenti mengalir tertuju padamu. Sudah cukup aku menyakitimu. Sudah cukup aku bertubi-tubi manyakiti hatimu. Sudah cukup.
Terimakasih untuk semuanya, Untuk segalanya. Terima Kasih, Kasih.


Kamis, 21 Maret 2013

si Senyum Pelangi.



Hari ini, malam hari, 20 Maret. Seperti biasa, pulang kerja. Setelah seharian berebut jalan aspal di jalanan raya ibukota Jakarta. Dengan ribuan motor dan mobil yang bermacet-macetan ria. Seperti konvoi di acara pesta rakyat rutin 5 tahunan.
Sampai di kantor jam 12 malam, badan yang lelah, langit yang gelap. Bulan dan bintang-bintang rakus dimakan awan. Persis seperti hati yang gelap, dimakan keegoisan diri.
Sampai disinggasana tidur, seperti biasa buka leptop, browsing, main jejaring sosial, buang kejenuhan yang entah kenapa sekarang lebih sering datang.
Buka facebook, buka App. games facebook, lihat beranda, kali aja ada yang menarik. dan, ternyata tak ada, aku refresh berkali-kali tetap tak ada yang menarik. Iseng buka inbox facebook, buka history chat yang dulu-dulu. Lihat kekonyolan saat "muda", lihat kata-kata najis yang terkirim ke cewek-cewek. Sial, aku senista itu ternyata.
Terus kebawah, kubaca pelan setiap inbox pesan. Dan akhirnya, ku temukan sebuah inbox atas namamu. perempuan muda, perempuan hebat, perempuan baik, dan tentu saja perempuan cantik. Ku buka, ada ribuan chat didalamnya. Ku buka dari ujung atas, kubaca dengan teliti tanpa ada yang terlewat. Begitu bahagia, Begitu ceria, sepertinya kau dan aku begitu menikmati obrolan itu. Canda mungkin tawa kita buat saat itu. Satu kata yang tepat buat saat itu. "BAHAGIA".
Saat itu siang hari kau berjanji mengabariku lewat seluler. aku tunggu dengan sangat. Dan setelah siang menjelang. Hape berdering seperti biasa suaramu keluar dari spiker hapeku yang kecil, terasa badan lemas tak berdaya, hati berbunga-bunga. Indah.
Suaramu tak merdu, tapi bisa membuat tenang dihati. Mungkin ini cuma perasaanku saja. Tapi percayalah, hari paling indah adalah saat kau menyebut namaku.
Senang rasanya kau pernah menjadi bagian dari hari-hariku, senang rasanya menunggumu hanya untuk sekedar membalas pesan yang tak pentingku. senang rasanya melihat kiriman ":)" dari tab obrolanmu. Senang rasanya kau megetikan namaku dengan jari-jari -yang ku yakin- manis itu. Bahagia rasanya kau mengenalku dengan begitu banyak senyum.
Sekarang, kau sudah menjadi perempuan yang paling bahagia. Paling tenang. Sudah tak kau hiraukan lagi hiruk pikuk kehidupan manusia di dunia. Kau tenang di alam sana, ku yakin kau tetep cantik, tetap indah, atau mungkin kau lebih dan lebih dari pada saat di dunia. 
Kau telah membekaskan kebahagiaan dihati, membekaskan memori indah di otak. Pahit rupanya hari-hari ini tanpa andil darimu. 
Senyum pelangimu itu sekarang cuma ada dibenak ku untuk selamanya. sampai mungkin nanti di Surga ku bisa memandangmu. Dari jauh. :') 
Allah meminangmu lebih dulu dari pada aku. Allah lebih mencintaimu dari pada aku. Allah tau yang paling baik buatmu dari pada dengan aku. semua rahasia-Nya, Dia pengatur semua semesta. Kasih, Cinta, Ceria, Bahagia Dia penciptanya.
Ungkapan hati belum sepenuhnya tersampaikan, kau terlalu terburu-buru meninggalkan aku. Tapi, lewat ini, lewat tulisan ini. aku mencintaimu dengan sangat. terburu-buru memang, tapi ini cinta tak bisa dipikir pakai logika. 
di Surga apapun bisa dilihat. Semoga kau melihatnya dan membaca. Dan, kemudian hadir dimimpiku, Hapuskan setumpuk rindu yang tak terhitung. 
Baik-baik Adinda disana. jangan telat makan kau di surga. jangan sampe kena Maag. :'))