Bekasi, 11 Oktober 2016
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Apa kabar, Nok?
Semoga dalam keadaan sehat, bahagia, sejahtera dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin
Akhirnya doa-doa yang selama ini aku panjatkan sedikit demi sedikit terjawab, mudah-mudahan semua doa yang selalu terucap satu persatu terkabulkan. Aku tahu Allah memang tak pernah tidur, tak pernah mengabaikna satupun permintaan dari hambanya. Alhamdulillah. 😊😊
Ini adalah surat ke sepuluh, tak terasa waktu sangat cepat melesat maju. Seakan baru kemaren aku menulis surat pertamaku untukmu, sekarang sudah hampir selusin surat yang tak penting itu. Hahahabodoh.
Aku pernah berfikir, bahwa cinta yang aku rasa itu salah, keadaan itu tak pernah berpihak, waktu itu yang menghancurkanku, tapi ternyata bukan. Bukan Cinta, keadaan, ataupun waktu yang salah dan menghancurkanku. Mereka tidak pernah salah, mereka datang berjalan seperti kodratnya, harapanku sendirilah yang mengancurkan ku. Aku terlalu berharap sesuatu yang tak mungkin tergapai, terlalu melabungkan cita setinggi angkasa, hingga ketika jatuh rasanya sangat luar biasa. Dan ketika jatuh pada saat mencoba beranjak untuk berdiri tegak kembalipun seakan tak mampu.
Sudah lebih dari selusin hari aku lalui dengan sesuatu yang ternyata sia-sia, hanya membuat khawatir dan beban. Sekarang mungkin sudah saatnya aku kembali ke realita, aku memang tidak bisa menghilangkan rasa cinta yang sudah tertanam terlalu dalam, tapi disaat aku bisa melihat mu bahagia, entah kenapa aku menjadi lebih tenang, menjadi lebih ikhlas untuk merelakan dan melihatmu dengannya. Aku akan mulai bergerak perlahan, sedikit demi sedikit beranjak dari keterpurukan yang membosankan ini. Mulai lagi menghapuskan satu persatu segala cita yang pernah tercipta.
Menerima keadaan adalah satu-satunya jalan, agar hidup kembali berjalan dengan sewajarnya seperti orang-orang kebanyakan.
Aku memasrahkan semua pada sang waktu, biar dialah yang mengubahku. Aku hanya perlu berjalan kedepan, meski mungkin akan sesekali menengok kebelakang. Piknik dalam kenangan.
Cinta ini tak pernah salah, Nok.
Cinta ini mengajarkan banyak hal, menghasilkan banyak rasa, membekaskan banyak cerita. Tidak mungkin rasa cinta adalah dosa, karena cinta datang langsung dari-Nya, bukan ciptaan manusia.
Keadaan yang terjadi dengan kita adalah yang terbaik untuk kita. Tak pernah sekalipun Allah menjerumuskan kita pada hal yang buruk. Meski aku sangat pernah tak berfikir demikian.
Aku rasa sudah saatnya aku mengurangi intensitas menulis surat untukmu, ya meskipun aku yakin surat-surat yang kutulis ini tidak ada penting-pentingnya untukmu. Cuma berisi curhatan konyol, siapa juga yang mau baca. Dan pula setiap kalimat tanya yang tertulispun tak pernah mendapatkan jawaban, permintaan pun tak pernah menghasilkan. Jadi aku fikir banyak kepercumaan.
Surat ke sepuluh ini adalah surat terakhir periode dua hari sekali, aku mungkin akan tetap menulis surat untukmu, disaat rindu tak mungkin aku tampung lagi dalam sunyi, tak mampu lagi ku simpan dalam hati. Disaat itu hanya menulis surat aku bisa meluapkan rindu, meski aku rindu itu sudah tak halal untukku.
Aku tak pernah menyesal telah memilihmu menjadi penghuni didalam salah satu ruang dihati, aku juga tak pernah menyesal mwnghabiskan ribuan detik bersama denganmu. Aku hanya menyesal, saat bersama aku tidak terlalu membahagiakanmu.
Kamu yang sehat selalu ya, Nok. Bahagialah. Mulailah bersikap ekspresif, buanglah semua topeng, mulailah menjadi dirimu sendiri. Bahagia yang hakiki adalah bahagia yang lahir dan tumbuh dari hati. Menangislah pada saat kamu merasa sedih, teriaklah pada saat kamu merasa marah, dan tertawalah pada saat kamu merasa bahagia.
Berbahagialah. Segala doa terbaik aku panjatkan selalu untukmu, Nok.
Akhir kata..
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar