Selasa, 12 Juli 2011

yang tak terkalahkan


Mereka satu persatu pergi, teman sekecilku, karibku. Kalian ingat teman, saat-saat menyenangkan dulu, kita menghayal tentang hari esok, kita berlomba, siapa yang paling sukses dimasa mendatang, kita bersaing, siapa yang bisa dapat istri paling cantik, ingat itu…?

Perlombaan belum juga final, tapi kalian telah pergi…kalian curang…

Zam, sigit… Maaf bila ku lancang menulis nama kalian disini. Sengaja kutuliskan nama kalian, agar aku selalu tetap ingat, semangat kita, mimpi-mimpi kita, perlombaan kita, persaingan kita.

Memang nasib menyandera kalian, banyak kepedihan yang kalian alami, aku paham betul apa yang kalian rasakan, tapi aku bisa berbuat apa, waktu itu aku hanya anak kecil, yang tak tahu apa maunya orang dewasa. Orang dewasa punya jalan pikirannya sendiri. Mereka heboh dalam dunianya sendiri.

Mari kita mengingat masa-masa keemasan kita dulu, kita taklukan bukit malahayu dengan sepeda biru yang sudah berkarat itu, kita menanjak dan meluncur, kita kangkangi jalan raya yang tak berlampu, kita bunyikan mercon sebesar kaleng biskuit didepan masjid, tiga buah sekaligus, kita gagahi malam beramai-ramai, kita lempar dan remukkan kesombongan para orang tua, dan ketika kita tak mampu lagi untuk pongah, kita terbaring bersama-sama, bercengkerama, sambil menjalin mimpi kita, persaingan kita…

Dan berita itupun datang, ada pesan diponselku, bunyi nada pesan pendek itu biasa saja, seperti sebelumnya, aku tak merasakan firasat apa-apa. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kalian satu persatu telah pergi meninggalkanku, izroil menjemput, Tuhan memanggil kalian. Aku tidak menangis saat itu, aku hanya terdiam, tak tahu mau apa. Tapi bertahun-tahun setelah kepergian kalian berdua, hari ini aku menangis sejadi-jadinya, aku kalut. Aku belum sempat minta maaf, aku mau mengaku salah, kalau sepedamu yang bocor itu karena kecerobohanku, tapi semua sudah terlambat.

Sekarang baru aku sadar, kalian sukses mempecundangiku, kalian telah memenangkan perlombaan kita, persaingan kita, aku kalah telak. Tentu sekarang kalian sudah disurga, menikmati sungai dari susu, memakai minyak misik, makan dan minum apapun yang kalian mau, ditemani banyak bidadari.

Mungkin ada betulnya perkataan Hok Gie, orang yang beruntung itu orang yang mati muda.

Aku tinggal menunggu kapan giliranku, hingga ketika kita bertemu disurga nanti, kita akan berpetualang lagi dengan sepeda biru itu, tentu yang sudah kutambal, sebagai wujud permintaan maafku, karibku.

di kutip dari : http://maucokelat.wordpress.com/page/2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar