ladang hatiku kau tanamkan benih-benih cinta
kau sirami dengan kata-kata nista nan durja
tak kubiarkan benih cintamu itu tumbuh subur dihati
takan kubiarkan itu terjadi.
hari demi hari kau racuni aku dengan kata durja
kata durja yang mengandung banyak derita
kata cinta itu tepatnya.
ku tolak dengan berbagai cara.
dan aku tetap menolak kau suburkan ladang hatiku
dari benih-benih cintamu itu.
kau wanita yang terlalu baik untuk menjadi petani
petani dilahan hati nan kelam ini.
kupikir kau akan menyerah karenanya
sebuah hal yang teramat sangat aku harapkan
sebelum hati ini terlalu lemah
terlalu lemah untuk menolak apa yang akan engkau berikan.
dan akupun menyerah.
hatiku kini tertambat di dermaga hatimu
kau menangkan pertarungan ini,
kau hancurkan perisai kesombonganku akan cinta.
aku menyerah, dan terkapar penuh darah.
darah hitam penuh nista nan durja.
dan kau ganti dengan darah segar penuh cinta.
ladang hatikupun sudah penuh akan benih cintamu yang tumbuh subur
dan semakin rindang.
dan semakin rindang.
kau birukan hatiku, kau warnai hariku,
kau pelangikan warna kelam masa-masaku.
dan terimaksihku untukmu, wanitaku.
Jakarta, 30 November 2011. 15.00 WIB
Muhammad Farid Ahsan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar