Pagi ini, hari rabu 30 November 2011 di kantor, aku terpanggil untuk memperbaharui tulisanku lagi di blog, apapun isinya, apapun jenis tulisannya, tak masalah. Yang terfikirkan hanya menulis dan memperbaharui blog yang aku miliki.
Pertumbuhan itu ada, perubahan itu nyata adanya. Memang hidup itu seperti itu, pertumbuhan selalu berkesinambungan dengan sebuah perubahan, baik fisik, watak dan apapun yang terdapat pada diri kita. Dan saya merasakan itu, sebuah perubahan yang insyaAllah berubah menjadi lebih baik lagi. Dan perubahan yang paling aku banggakan itu bukan perubahan fisik, ataupun watak, namun gaya tulisan. Menurut ku perubahan dalam gaya tulisan ku sangatlah berbeda dengan gaya tulisan ku setahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu, dan bertahun-tahun lalu. Karena menurutku setiap gaya tulisan seseorang itu menunjukan semua yang ada pada dirinya, baik sifat, watak dan kepribadian. Yang dulu sewaktu masih belajar menggunakan baju seragam aku masih merangkai kata dengan kolaborasi huruf kecil, huruf besar dan angka, sebuah masa yang kelam rupanya. Kadangpun merasa malu sendiri jika mengingat masa-masa itu, sebuah rangkaian kata yang menunjukan kelabilan seseorang menurut ku. Karena : Kenapa harus susah-susah menggunakan angka jika hanya menggunakan huruf saja sudah mudah dan enak dibaca, kenapa harus menggunakan angka-angka dalam merangkai kata-kata pada sebuah kalimat? Bukankah itu merupakan salah satu bentuk kelabilan seseorang? Ya, menurut ku itu sebuah bentuk kelabilan seseorang, dan ini hanyalah sebuah pendapat pribadi aku sendiri.
Dan aku selalu terkesan dengan manusia-manusia yang mampu merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang indah, dan enak dibaca. Berasa ingin selalu belajar jika menemukan seseorang seperti itu, belajar untuk membuat sebuah karya dari rangkaian-rangkaian kata yang indah dan enak untuk dibaca. Bukan sekedar enak dibaca, namun juga mampu masuk ke hati, dan dicerna dengan otak dan juga menjadi sebuah pembelajaran bagi seseorang yang membacanya. Jika memang seperti itu ribuan lembar seratus ribuan pun tak mampu menggantikan sebuah perasaan itu. Sebuah nikmat yang tiada tara sepertinya, jika karya kita ada yang suka dan mampu menyerap hal-hal postive di dalamnya. Dan akupun menginginkan seperti itu.
Jakarta, 30 November 2011
10.16 WIB
Muhammad Farid Ahsan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar