Minggu, 14 Agustus 2016

Sesal

Sabtu malam, seperti hari-hari biasa. Berkumpul dengan teman serantauan, bercanda kiri kanan, bermain kartu remi sampai larut, sambil kadang membicarakan hal yang berbau curhatan.
Dini hari menjelang, masing-masing kawan pulang ke peraduannya masing-masing, aku sendirian (lagi). Fikiranku menerawang tentang perbincangan minggu kemaren dengan beberapa kawan lama, kawan stm (sekarang smk). Kita bertukar kabar, bertukar cerita, pengalaman, pahit dan -beberapa- yang manis.
Berbincang tentang kabar kawan yang lain, tentang jadi apa mereka sekarang, dan seketika aku mengerdil.
Mereka, kawan-kawan stm seperjuangan sudah menjadi seseorang. Tapi, aku? Masih menjadi menjadi seorang bocah yang entah apa. Masih menjadi pemalas yang kesepian.
Melihat beberapa tahun kebelakang, si pemalas ini hanya melakukan hal yang tidak bermanfaat. Sedangkan mereka sudah banting tulang sedari muda. Terbersit penyesalan, "kenapa aku menyia-nyiakan waktu yang lalu dengan hal-hal yang bodoh".
Namun penyesalan ini tidak menghasilkan apa-apa, hanya rasa bersalah yang besar terhadap orang tua. Abah dan ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar