Selasa, 27 September 2016

Surat Ketiga

Bekasi, 27 September 2016

Assalamualaikum Wr. Wb.

Apa kabar, Nok?
Semoga kamu selalu sehat, bahagia, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. -Aamiin-
Kamu lagi sibuk banget ya? Sampe nggak sempet bales surat kemaren? Padahal tak tunggu bangget loh. -Hehe- Kali aja jawaban dari pertanyaan ada yang bisa dijawab di surat balasanmu. Tapi kalo emang lagi sibuk sih nggak papa. Sesuai janjiku juga, aku menulis surat untukmu dua hari sekali. Entah dibales atau enggak papa, hak kamu kok. Aku cuma bisa berharap. -Hehe-
Semalam lumayan ada yang bikin nyess dihati, saat aku iseng-iseng stalking facebook kamu. Kepo banget ya? Tapi ya itu kenyataannya. Mau nggak kepo tapi pengin tau kabar, jadi ya mesti kepo dong, demi tahu kabar sang pujaan hati yang sudah menjadi is*ri. Ya meskipun yang dicari nggak ketemu juga. -Hiks- 
Oiya. Kamu tau yang bikin nyess itu apa? Adalah karena status balasan suratmu kamu hapus. Entah dengan alasan apa aku nggak tau, tapi jujur karena kamu hapus balasan surat yang singkat itu aku jadi nggak karuan. Ya, meskipun itu adalah hak preogratifmu sih. Tapi, surat balasan itu sangat berharga buatku, meski singkat, berbentuk status, tapi itu menunjukan segala perasaanmu padaku. Dan kalau surat balasanmu dihapus, apakah perasaanmu padaku juga ikut terhapus, Nok?
Kamaren kau kasih kabar. Aku sangat bahagia, meski sedikit sakit. Kita berbalas pesan, saling tanya kabar. Kau bilang kau selalu membebaniku, padahal aku juga sebaliknya padamu, Dan, kemudian aku ingat saat-saat kau meminta tolong apapun kepadaku, apapun itu. Aku rindu.
Nok, aku rindu. Ya, meskipun aku tak lagi punya hak untuk merindukanmu. Tapi jujur, hati ini, sepi, sunyi, dan mungkin mati tanpamu. Kehilanganmu adalah sebuah bencana terbesar dalam hidupku yang pernah aku terima sampai saat ini. 
Ingin rasanya aku duduk bersamamu, bercerita tentang apa yang aku rasa, mengutarakan cinta yang tak pernah aku ucap. Aku rindu, Nok.
Aku kemarin iseng-iseng lihat galeri foto dihape. Kamu tau kan? Hapeku penuh dengan kenarsisanmu, setiap kali hapeku kau pinjam, kamu pasti berfoto-foto ria. Aku rindu. Aku memandang fotomu penuh rindu, aku ingin memelukmu seperti saat itu. Saat kau masih menjadi milikku yang kupikir akan menjadi selamanya.
Setiap malam sebelum tidur selalu saja muncul bayanganmu, selalu terbayang kau bersama dia. Hancur. Setiap bangun tidurpun bayangmu tak pernah absen, selalu datang tanpa terlambat.
Nok, aku tak menuntutmu untuk selalu memberi kabar padaku. Tapi sesekali tolong balas suratku, tulislah dengan jujur segala apa yang kau rasakan dalam balasan surat, agar aku tau kapan aku bisa bertahan dan kapan aku bisa menyerah. 
Akhir kata. Semoga engkau bahagia, semoga aku bahagia, dan semoga kita bahagia.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Farid
Si punguk yang terlalu mencintai bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar