Kamis, 22 September 2016

Selamat Menempuh Hidup Baru, Rembulanku!

Hari ini, Kamis 22 Sepetember 2016. Hari yang sangat bersejarah bagimu, bagiku, bagi kita. Hari dimana semua hal tentang perasaan kita dipaksa untuk terhenti, dipaksa untuk menepi, dipaksa untuk mati.
Hari ini, malam nanti setelah ijab qabul diserukan silelaki -yang entah kenapa aku benci sekali dengannya- kau bukan lagi menjadi seorang perempuan, kau akan menjadi seorang istri. Pedih sangat apa yang aku rasakan, kacau. Setiap sepi kesempatan hanya muncul penyesalan, dan tumbuh khayalan. Khayalan yang sering kita perbincangkan. Dulu.
Hari ini, kepala ku berat, dadaku sesak, mataku selalu melihat samar. Aku tak tau harus apa, aku tak tau akan menjadi apa. Kau perempuan yang selalu menjadi lawan marahku, kawan senangku, sekarang menjadi milik seseorang. Dan, aku hanya bisa diam.
Entah bagaimana caranya aku bisa bertahan.
Cintaku ini mungkin sudah tak berarti apa-apa, tidak bisa merubah apa-apa lagi, tidak menghasilkan apa-apa lagi selain pedih dan perih. Namun, ini adalah cinta yang mengingatkan aku denganmu, menghangatkan hatiku yang dingin, yang pernah meramaikan hatiku yang sepi. Cinta ini, biarlah ku simpan sendiri, dalam sepi.
Bahagialah, Sayang. Mungkin ini adalah takdir yang sudah tercatat.
Berbahagialah dengan jalan yang sudah terpampang dihadapan, berbahagialah demi aku yang ada dibelakang, berbahagialah demi semua yang menyayangimu. Jika kau bahagia, aku pastikan aku juga akan selalu -mencoba- bahagia. Doa ku akan selalu terucap setiap hari untuk kebahagianmu.
Selamat menempuh dan menjalani hidupmu yang baru, Rembulanku.
Akupun akan mencoba menjalani hidup yang baru, Tanpamu, Tanpa Kita.
Tetap Sehat, Sayang. Aku percaya, Allah itu Maha Adil. Ada rencana yang lebih besar dibalik sebuah ujian yang besar.

Dan, akhirnya ."Saya terima sakit dan pedihnya cinta yang tak menjadi satu bersama Siti Mualindah Binti Bapak Sunar dengan rasa ikhlas dan pasrah. Dibayar tunai."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar