Bekasi, 29 September 2016
Assalamualaikum Wr. Wb.
Apa kabar, Nok?
Semoga selalu sehat, bahagia dan selalu dalam lindungan Allah SWT. -Aamiin-
Surat-suratku yang lalu masih belum dibalas, tapi kamu udah baca kan? Atau malah belum? Nggak papa. Surat yang aku tulis mungkin kamu pikir 7 curhatan jadi nggak perlu dibalas. Cukup dibaca, sekedar tau dan mengerti.
Beberapa hari ini aku agak kurang faham dengan apa yang ada difikiran, soalnya isinya kamu doang. Mungkin rindu. -Hehe-
Eh, aku masih boleh kan ngomong rindu ke kamu, Nok?
Beberapa hari ini aku jadi seperti seseorang yang lain, jadi tukang ngintip, tukang stalking. Aku buka semua akun sosial mediamu, aku buka satu persatu, sampai aku buka akun kakakmu, dan aku menemukanmu disalah satu posting fotonya. Aku bahagia. Sesimple itu.
Bahagiaku ini seakan lebih sesimpel itu sekarang, hanya mendengar kabar, melihat tulisan, memandang fotomu sudah cukup bikin aku seketika semangat, dan senyum-senyum sendiri. -Hehe-
Sore kemaren aku iseng buka facebookmu lagi. Aku kaget bukan kepalang, facebookku kamu remove pertemanan. Reflek aku langsung tambah lagi, bodo amat dikira nggak tau malu. Kau sendiri yang bilang, meski kita tak jadi satu kita bisa menjadi sekutu. Teman. Aku sayangkan keputusanmu itu, biarkan kita tumbuh masing-masing ditempat dan hati yang baru. Tak perlu memutus tali silaturahmi yang sudah lama terjalin. Sakit memang tapi biarkan tangan dari sang waktu yang memutuskan, jangan kita sengaja memutuskan.
Aku sudah mulai gila? Mungkin. Kesadaranku sudah mulai hilang, menguap seiring berjalannya waktu.
Nok, pola makanmu udah normal? Udah doyan makan banyak? Makan terakhir nasinya berapa centong? Lauknya apa? Abis nggak? Kalo pola makanmu sudah normal aku turut senang, syukur Alhamdulillah. Sekarang gantian aku yang aneh. Kayaknya butuh jamu temu lawak. Soalnya nafsu makan akhir-akhir ini agak kurang beres. Tapi kamu jangan khawatir -kepedean-. Aku masih tetep kuat, perut masih buncit. -Hehe-
Nok..
Kalo aku minta kamu untuk tidak terlalu menjauh dariku apa boleh? Berkomunikasi seperti biasanya. Kirim sekata dua kata, asal aku mendapat kabar darimu. Tak perlu kita saling menjauh, toh kita memang sudah menjadi jauh.
Nok..
Akhir-akhir ini hidup terasa lebih berat, mungkin karena kau sudah lagi tak bersamaku. Sekarang aku yang sering berpikir aneh-aneh. Tapi ayo kita nikmati, nikmati masa untuk ku me-recovery dan masa mu untuk beradaptasi. Dengan ikhlas dan pasrah tentunya.
Nok, jika kau mengkhawatirkanku, kau tak perlu mengkhawatirkanku. Bahkan aku sendiri tak pernah mengkhawatirkan diriku sendiri, kau hiduplah dengan tenang bersamanya. Sekali lagi, janganlah kita saling menjauh. Biarkan hubungan kita berubah secara alami, tanpa paksaan.
Akhir kata. Bahagiaku adalah melihatmu bahagia. Meskipun aku fikir itu kalimat munafik. Jangan lupa senyum, karena keindahan dunia ada didalam senyummu.
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Farid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar